Sabtu, 30 Maret 2013

Kepala Dengan Rambut Api Yang Melayang


Published under ,
Ini cerita pengalaman kakek saya (almarhum) sewaktu masih aktif di POLRI. Kakek saya tinggal di suatu desa di pedalaman kabupaten Semarang dekat sungai Tuntang. Pada jaman dahulu daerah itu kalau malam sangat gelap, belum banyak lampu penerangan.

Suatu malam, kakek saya bersama anak buahnya (sebut saja pak M) hendak pergi ke suatu tempat sebut saja desa P karena urusan dinas yang tidak dapat ditunda. Untuk mencapai desa P ada 2 jalur, yang pertama melewati hutan menyusuri pinggir sungai, jalannya sangat sempit dan rusak tetapi jalur ini lebih dekat. Sedangkan jalur kedua lewat jalan yang cukup besar dan ramai (melewati banyak rumah penduduk), tetapi jalur ini memutar sehingga perlu waktu yang lebih lama.

Karena mendesak, kakek saya dan pak M memutuskan untuk melewati jalur pertama yang lebih dekat. Waktu itu kakek menggunakan kendaraan roda dua vespa. Perjalanan pun dimulai dengan lancar. Namun sampai di tengah perjalanan di dekat sebuah sendang pinggir hutan yang oleh masyarakat di sebut "sendang buk", tiba-tiba vespa kakek macet dan tidak mau hidup. Sudah di cek dari busi hingga mesin tidak ada masalah. Berkali2 dicoba starter tapi tetap saja mesin vespa bergeming tidak mau hidup.

Lalu tiba-tiba dari arah hutan muncul cahaya obor yang perlahan mendekat ke arah kakek dan pak M. Makin lama makin dekat... Saat sudah dekat, nampaklah wujud asli dari cahaya obor tersebut yang ternyata adalah sebuah kepala dengan rambut api yang melayang!!

Melihat hal itu pak M langsung panik teriak2 minta tolong. Seandainya tidak dipegang oleh kakek, pak M pasti sudah lari entah kemana dan bisa tersesat mengingat mereka berada di pinggir hutan tanpa penerangan sama sekali.

"Bos gimana ini??", Pak M panik melihat "obor" itu makin dekat. "Udah, berdoa sebanyak2nya" kakek berusaha tenang. Si obor makin mendekat ke arah mereka berdua, memperlihatkan seringai lebar menyeramkan kepada kakek ane.

Namun tiba-tiba.. "srrr..." terdengar bunyi orang buang air kecil. Kakek langsung menoleh ke M yang ternyata sedang ngompol saking takutnya..

Tak disangka, setelah kejadian mengompol ini, setan api itu tiba-tiba terbang pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah setan pergi, vespa kakek dengan sekali starter langsung bisa hidup lagi dan mereka pun segera menuju desa P.

Setan di Sumur Sekolah Ku


Published under ,
Hy all.. ketemu lagi bareng Boris, si anak SMPN 1 pkp. Masih ingat kan? kalau gk ingat keterlaluan kalian, masa ama penulis paling muda disini dilupakan? hehehe.. langsung aja deh.

Kejadian nya masih pagi2 banget di sekolah ku. Waktu itu, cuma ada aku, pacar ku (Sri), sama tukang bersih2 sekolah. Aku dan Sri keliling sekolah buat jalan2. Awal nya sih gk ada yang aneh, tapi waktu kami lewat sumur yang ada dibelakang sekolah, aku merasakan ada hawa dingin menusuk. Awal nya sih ku kira cuma aku aja yang ngerasa, cz aku cuma pake jaket tipis.. tapi aku ngeliat Sri kedinginan nya lebih parah dari aku. Jujur aja, jaket nya itu tebel banget lho.

Truss, aku tanya "Ngerasa juga ya?". "Iya nih, kok tiba-tiba dingin banget yah?" jawab nya. Tapi kami belum terlalu memikirkan sampai jauh. Trus, gk tau kenapa si Sri tiba-tiba gemetaran luar biasa banget. Dia lalu mengajak aku buat balik ke gerbang bareng tukang sapu. Tapi aku menolak karena aku masih penasaran dengan hawa dingin itu, yah Sri ngikut aja.

Awal nya pas kami ngelewatin sumur belum ada apa2, tapi tiba-tiba, nama kami berdua dipanggil. Aku noleh kebelakang, gk ada apa2. Truss, aku ngedengar ada orang minta tolong. Ku tanya sama Sri dia ada dengar apa gk, ternyata dia juga dengar. Itu suara setelah kami cari ternyata berasal dari sumur itu, kami pun langsung menuju kesitu, dan kami melihat ada seseorang yang sedang duduk di atas sumur.

Secara gk sengaja, kaki Sri menginjak botol... "treek", dan suara botol itu menyebabkan seseorang tadi langsung menoleh ke arah kami. Awal nya dia hanya menunjukkan wajah nya yang jelek kaya bekas kena tusuk berkali2. Tapi, setelah dia melihat kami terpaku agak lama, dia langsung menunjukkan taringnya.

Awal nya kami mencoba untuk berteriak, tapi suara kami tertahan. Setelah itu dia kembali masuk kedalam sumur, dan baru lah kami dapat berteriak lalu kemudian lari. Si tukang sapu heran melihat kami berlari2 kaya dikejar setan (bukan dikejar sih, tapi ngeliat) langsung nanya "Kok kaya abis dikejar setan gitu?". "Gk pak, bukan dikejar", kata ku. "Lalu?", si tukang sapu pun makin heran. "Abis ngeliat setan pak, di sumur belakang", kata Sri.

Kemudian si tukang sapu pun bercerita kalau di sumur itu ada seorang cewek yang meninggal mengenaskan karena diperkosa orang tak bertanggung jawab. Karena dia terus meronta, dia langsung dilempar ke kawat berduri dan muka nya tersangkut, ia kemudian meninggal. Lalu para orang tadi langsung membuang nya ke sumur tersebut. Mungkin arwah nya penasaran ingin membalas dendam.

Kamis, 28 Maret 2013

Ritual Pesugihan Omyang Jimbe


ilustrasi
Namaku Yogi, sebut saja begitu, umurku 52 tahun. Aku tinggal di sebuah perumahan di Jakarta Selatan bersama isteri dan dua orang putraku. Sampai penghujung tahun 2007, rumah tanggaku tak menemui masalah yang berarti. Kami hidup rukun dengan segala kebutuhan rumah tangga yang selalu bisa aku penuhi. Dua orang putraku pun bisa bersekolah dengan layak, salah satunya sudah duduk dibangku perguruan tinggi dan adiknya masih di bangku SLTP.
Tapi suatu ketika musibah datang beruntun dan langsung membuatku ambruk hingga tenggelam ke dasar lumpur kenistaan. Padahal baru saja dua bulan aku mengambil kredit di sebuah bank swasta nasional yang nilainya 700 juta rupiah. Untuk mendapatkan kredit sebesar itu, aku mengagunkan rumah yang aku tempati bersama isteri dan anak-anakku. Uang sejumlah itu aku gunakan untuk modal usaha karena aku sudah lama mendapatkan klien dari Singapura mengirim hiasan rumah tradisional.
Seperti disambar petir di siang bolong, hari itu aku mendapat kabar bahwa barang yang kupesan dari para pengrajin di Tasikmalaya tidak bisa dikirimkan. Alasan mereka belum mendapatkan bayaran sejak 3 bulan lalu. Para pengrajin itu menuntut pembayaran semua barang yang mereka kirim senilai hampir setengah milyar. Padahal aku sudah membayarkan semua hak mereka tanpa ada yang aku tunda-tunda. Pembayaran itu aku lakukan melalui kasir dan orang kepercayaanku.
Tak hanya itu, masalah lain timbul dari klienku yang di Singapura, dia menuntut aku untuk segera mengirimkan barang pesanannya. Panik bukan kepalang, di satu sisi aku harus membayar uang kepada para pengrajin di Tasikmalaya. Di sisi lain aku dituntut untuk mengirim barang ke Singapura atau kontrak yang telah kubangun akan segera diputuskan. Artinya aku akan kehilangan klien sekaligus harus membayar utang yang segunung jumlahnya.
Yah, tentu saja bukan aku tidak berusaha mencari jalan keluar. Aku sudah melaporkan penggelapan uang, penipuan dan korupsi pada Kepolisian. Tapi apa pun itu, tidak membuat usahaku lancar. Aku kehilangan klien karena ulah karyawanku yang membawa kabur uangku. Aku tak tahu ke mana harus mencarinya lagi. Alamat yang ditinggalkannya ketika melamar pekerjaan 4 tahun lalu ternyata palsu. Aku sudah menelusuri semua jejak yang pernah dia tinggalkan, tapi semua nihil.
Singkat cerita, aku benar-benar terpuruk, usahaku hancur dan rumahku disita bank karena aku tak mampu membayar hutang. Aku ngontrak di sebuah rumah petakan di Cinere. Tapi itu belum bisa membuat hidupku tenang. Karena para pengrajin di Tasikmalaya masih terus memburuku karena aku masih mempunyai hutang pada mereka sejumlah hampir 400 juta rupiah. Nyaris setiap hari aku didatangi orang yang menagih hutang ke rumah kontrakanku. Dan hampir setiap jam telepon genggamku berdering oleh orang-orang yang menagih hutang.
Keterpurukanku itu berlangsung hingga tahun 2009. Sepanjang dua tahun, hidupku benar-benar hancur, untuk mencari makan saja aku harus meminta bantuan ke mana-mana. Anak sulungku terpaksa harus berhenti kuliah karena aku tak sanggup lagi membiayainya. Isteriku setiap hari harus ikut mencari nafkah dengan berjualan gorengan dan makanan kecil di depan kontrakan. Sementara hutangku masih menggunung dan aku hanya mampu menjanjikan pada para pengrajin di Tasik, bahwa suatu hari aku pasti akan melunasi semua hutang-hutangku.
Hari itu temanku Haris memperkenalkan aku pada seorang temannya yang bernama Edi. Menurut Haris, temannya yang bernama Edi itu bisa membantu menyelesaikan masalahku dengan kekuatan gaib. Tertarik dengan hal itu, aku mengajak Haris bertemu dengan Edi di suatu tempat di bilangan Bekasi. Dan hari itu pula aku diajak Edi bertemu dengan seorang spiritualis yang bernama Wisnu. Dari mas Wisnu inilah aku diberitahu bahwa aku bisa menggelar sebuah ritual untuk mendapatkan sejumlah uang dari gaib.
Menurut Wisnu, spiritualis yang berusia sekitar 45 tahun itu, ritual menarik uang gaib ini menggunakan kekuatan keris Omyang Jimbe. Sebuah keris keramat yang umurnya sudah ratusan tahun. Di rumah Mas Wisnu, aku diperlihatkan sebuah keris yang di kepalanya berhias dua orang yang nampak sedang semedi. Itulah yang disebut Mpu Omyang Jimbe pembuat keris pusaka yang kekuatan gaibnya bisa digunakan untuk menarik uang dari alam gaib.
Aku semakin antusias karena menurut Mas Wisnu tak perlu tumbal untuk mendapatkan uang dari alam gaib itu. Meski dengan ritual yang teramat sakral tapi gaib penghuni keris itu tidak meminta tumbal pada pelaku ritual. Gaib itu hanya menuntut agar pelaku ritual itu berlaku jujur. Sebab uang yang bisa ditarik dari alam gaib itu hanya boleh dipergunakan untuk membayar hutang atau pelakunya benar-benar dalam keadaan terdesak. Selain itu jumlah uang yang bisa didapatkan pun terbatas sesuai dengan kebutuhan pelaku itu sendiri.
Yah, dengan bermodalkan keyakinan aku menghadap Mas Wisnu untuk mengadakan perjanjian ritual. Aku diminta untuk menyediakan sejumlah sesajian lengkap untuk menggelar ritual itu. Aku harus menyediakan kembang setaman lengkap dengan kemenyan dan uborampe lainnya. Kemudian aku juga diminta untuk menentukan di mana lokasi ritual itu akan digelar. Menurut Mas Wisnu, lokasi ritual itu boleh ditentukan oleh pelaku sendiri. Bisa digelar di tempat keramat atau di mana saja bahkan juga bisa digelar di rumah pelaku sendiri. Tapi karena rumah kontrakkanku terlalu sempit, maka aku memilih menggelar ritual di sebuah tempat keramat di Bogor, Jawa Barat.
Sesuai dengan kesepakatan dan perhitungan primbon Mas Wisnu, siang itu aku berangkat ke rumahnya di Bekasi, Jawa Barat. Hari itu Kamis malam Jumat, berdasarkan perhitungan Mas Wisnu, hari itu adalah hari baik untukku dan keluargaku. Aku berangkat dari rumah Mas Wisnu sekitar pukul 4 sore menuju sebuah tempat keramat di perbatasan antara Jasinga, Bogor dengan Tangerang Banten. Ritual itu sendiri baru akan digelar menjelang tengah malam.
Sesuai perhitungan, kami baru tiba di keramat itu sekitar pukul 8 malam. Setelah meminta ijin pada juru kunci, kami langsung menuju lokasi keramat untuk mengenali situasinya. Ternyata keramat ini memang nampak menyeramkan. Pohon-pohon besar berdiri tegak bagaikan raksasa yang tengah berkacak pinggang. Di bawah pohon-pohon besar itu berdiri sebuah gubuk kecil yang gelap gulita. Hanya ada sebuah lampu minyak yang kadang redup tertiup angin malam.
Beberapa saat aku ngobrol dalam gubuk itu bersama 5 orang yang ikut dalam ritual itu. Aku sendiri ditemani seorang saudaraku yang ingin ikut menyaksikan ritual itu. Selama kami ngobrol, aku merasakan banyak getaran gaib yang menyelimuti tempat keramat itu. Aku yakin tempat itu pasti dihuni oleh banyak makhluk halus yang tak kasat mata. Dan setelah ngalor ngidul kami ngobrol akhirnya waktu yang telah ditentukan untuk menggelar ritual itu pun tiba.
Pukul 11 malam, Mas Wisnu mulai memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan segala sesajian yang kami bawa. Berbagai uborampe digelar dalam cungkup yang luasnya sekitar 10 meter persegi itu. Kembang setaman digelar di atas sehelai kain putih. Perapian mulai dibakar dan sesaat kemudian api mulai menyala membakar arang dalam bokor tembaga. Beberapa batang hio mulai mengepulkan asap yang baunya khas menusuk hidung. Terakhir Mas Wisnu mencabut sebuah keris yang bernama Omyang Jimbe. Keris itu berdiri tegak di atas sehelai kain putih di depan sesajian.
Ritual itu mulai digelar, aku duduk bersila di belakang Mas Wisnu. Berjejer di samping kiriku adalah saudaraku dan seorang anak buah Mas Wisnu. Lalu di samping kananaku dua orang lain yang diajak Mas Wisnu. Segala syarat perlengkapan untuk memanggil kekuatan gaib keris Omyang Jimbe telah siap digelar. Asap hio dan kemenyan pun telah mengepul sejak beberapa menit lalu. Memanggil segala jenis makhluk halus untuk memberi kekuatan pada ritual itu.
Tepat tengah malam, Mas Wisnu mulai membacakan mantera dan jampi-jampi yang aku tak mengerti. Beberapa bait mantera dan jampe-jampe dari bahasa Jawa kuno meluncur dari mulutnya. Sebelum itu Mas Wisnu juga membacakan beberapa Ayat Suci Al Qur’an, maksudnya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan pada para peserta ritual. Sebab menurutnya di tempat seperti itu resiko gangguan makhluk halus pasti sangat besar.
Setelah pembacaan mantera itu selesai, lalu Mas Wisnu memerintahkan seorang asistennya yang masih sangat muda untuk duduk di depan sesajian itu. Sesaat kemudian asisstennya yang masih anak muda itu menutupi sebuah kardus dengan kain putih. Kemudian dia pun membacakan beberapa ayat Suci Al Qur’an sambil duduk bersila di depan sesajian dan kardus itu.
Suasana mulai terasa mencekam manakala anak muda itu usai membacakan manteranya. Bulu kuduku terasa lebih merinding dibandingkan beberapa saat lalu. Aku merasa seperti ada makhluk halus yang tengah memperhatikan gerak-gerikku. Mataku mulai melirik ke kiri dan ke kanan memperhatikan seluruh ruangan cungkup itu. Tapi tak ada apapun di sana, hanya kegelapan malam yang kulihat. Sesekali aku mendengar suara burung hantu dan binatang malam yang membuat suasana makin mengerikan. Aku yakin di situ pasti ada makhluk halus yang tengah memperhatikanku. Aku merasakan itu karena hampir seluruh bulu dalam tubuhku berdiri. Dadaku pun berdebar makin keras. Naluriku memastikan ada makhluk lain yang ikut dalam ritual itu.
Sedang diliputi rasa takut itu, tiba-tiba blaaarrrr. Kardus yang ditutup kain putih itu seperti meledak menimbulkan suara gaduh. Jantungku seperti mau copot, aku kaget bukan kepalang hingga posisi duduku berubah sedikit mundur bahkan nyaris lari lantaran kaget dan rasa takut.
“Tenang-tenang. Tidak ada apa-apa. Itu hanya sebuah pertanda bahwa ritual kita direstui gaib dan kita nyaris berhasil,” ujar Mas Wisnu manakala melihat keadaanku yang sangat ketakutan.
“Tetap konsentrasi dan jangan bertindak yang bukan-bukan,” lanjutnya.
Sesaat kemudian Mas Wisnu mengambil alih ritual dari anak muda itu. Kembali Mas Wisnu membacakan beberapa bait mantera sambil menaburkan kemenyan ke atas bokor yang arangnya masih terlihat membara merah. Tak seorang pun yang berani membuka mulut, suasana makin hening mencekam.
“Nah, ritual ini telah selesai. Mari kita lihat apa yang ada dalam kardus itu,” tiba-tiba Mas Wisnu bersuara sambil menunjuk kardus yang tertutup kain putih.
“Silahkan buka kardus itu, Mas Yogi,” tuturnya sambil menatap ke arahku. “Atau kalau sampeyan takut, biar aku saja yang membukanya,” lanjutnya melihat aku yang nampak ragu dan ketakutan.
“Silahkan, mas saja yang membukanya,” jawabku singkat.
Perlahan Mas Wisnu mulai menyingkap kain putih yang menutupi kardus itu. Dadaku masih berdebar, benakku terus bertanya-tanya apa yang ada dalam kardus kosong itu. Sesekali aku bisa melihat raut wajah Mas Wisnu yang nampak was-was. Entah apa yang ada dalam benak lelaki itu. Tapi sedetik kemudian, raut wajah Mas Wisnu nampak berubah. Ada rasa sumringah tatkala dia mulai membuka tutup kardus itu.
“Alhamdulillah, ternyata ritual kita dikabulkan. Silahkan lihat apa isi kardus ini,” tutur Mas Wisnu dengan senyum penuh kebahagiaan.
Dan betapa terkejutnya aku manakala melihat apa yang ada dalam kardus itu. Setumpuk uang pecahan seratus ribuan memenuhi kardus itu. Dengan penuh kebahagiaan dan rasa tak percaya, aku mengambil segepok uang itu. Setelah kuperhatikan, ternyata benar itu adalah uang yang selama ini aku dambakan untuk melunasi hutang-hutangku.
“Ingat Mas Yogi, pertama kali yang sampeyan lakukan dengan uang ini adalah membayar hutang. Jika hutangmu sudah lunas semua, maka sisanya boleh digunakan untuk apapun,” jelas Mas Wisnu mengingatkanku.
Yah, singkat cerita, kami pulang dengan membawa hasil yang kami harapkan. Dengan uang itu aku membayar seluruh hutangku pada para pengrajin di Tasikmalaya. Aku juga melunasi hutang-hutang kecilku pada teman-teman dan tetangga yang telah membantuku. Anehnya uang itu memang hanya cukup untuk membayar hutang. Hanya tersisa tak lebih dari 2 juta saja dari sisa pembayaran hutang-hutangku itu. Tapi syukur, aku bisa melunasi hutang-hutangku meski kini aku harus mulai kembali usahaku dari nol.

Makhluk Penghuni Danau dan Anak Kecil Yang Malang


Entahlah apa yang ada dibenak ku. Setiap kali aku menatap jalan setapak itu seolah-olah ada kekuatan yang masuk dan mengendalikan pikiranku untuk mengajakku melaluinya. Jalan setapak itu cukup jauh dan gelap. Disisi kanan dan kirinya hanya ada pohon-pohon besar yang jika ada desiran angin, membuat gesekan antara daun-daunnya terdengar seperti suara orang yang sedang merintih. Bulu kuduk ku pun sampai merinding.
Jalan setapak itu adalah jalan yang menuju ke sebuah danau kecil yang tidak jauh dari tempat tinggal kami. Biasanya pada waktu sore hari banyak warga sini yang suka memancing atau sekedar bersantai bersama keluarganya dipinggiran danau itu. Namun sejak kejadian tahun lalu, kini danau tersebut nyaris tidak pernah dikunjungi oleh warga sini lagi. Seorang anak laki-laki hilang tanpa jejak disana ketika sedang berenang bersama teman-temannya. Hingga sekarang masih menjadi misteri bagi kami yang tinggal didaerah sini. Dan konon menurut cerita orang-orang, setiap malam hari mereka mendengar suara tangisan anak kecil dari arah danau. Tapi tak seorang pun pernah menemukan wujudnya.
Karena hari semakin gelap dan ditambah dengan cuaca yang terlihat mendung, jadi kuputuskan saja untuk mempercepat langkah kaki ku. Sepatu kets ku terdengar berdebam-debam diatas tanah yang bercampur kerikil-kerikil tajam. Mungkin kalian pikir bahwa aku takut. Ya, benar sekali. Siapa sih yang tidak takut dengan cerita seperti itu? Mana suasana disini sudah mulai tampak sepi lagi.
Belum sampai sepuluh langkah, tiba-tiba Aku mendengar sesuatu. Aku memelankan langkah ku dan memasang telinga lebar-lebar. Mendadak bulu kuduk ku berdiri lagi ketika hembusan angin menyapuku dari arah belakang.
Ah, mungkin cuma suara angin saja. Aku bergumam didalam hati. Tapi ternyata Aku salah.
Suara itu semakin jelas terdengar dari arah belakangku. Suara tangisan. Tangisan yang sangat menyayat hati. Kecil tapi terdengar jelas di telinga ku. Perasaan ku bercampur aduk antara takut dan penasaran. Akhirnya Aku putuskan untuk berhenti dan menoleh kebelakang.
Benar saja! Seorang anak kecil laki-laki sedang berdiri membelakangiku. Kira-kira ada sepuluh langkah dari tempatku berdiri sekarang. Aku teringat dengan cerita orang-orang sini. Entah ada kekuatan apa yang sedang merasuki ku yang membuatku mendekati anak tersebut.
“Dik!” Aku menepuk punggung anak laki-laki tersebut. “Kau tidak apa-apa?” lanjutku menanyakannya.
Dia tidak menjawab. Aku tidak bertanya kenapa dia menangis. “Ayolah, anak laki-laki itu harus jadi jagoan dan mana boleh menangis.” Baru saja Aku ingin memegang pundaknya dengan kedua tanganku tapi anak itu sudah berbalik duluan.
“Tolong Aku, Kak!” Pinta anak laki-laki itu sambil menarik bajuku. Tubuhku pun sontak tertarik kedepan. Kemudian dia melingkarkan tangannya memeluk ku. Dia menangis tersegan-segan.
Jantungku berdegup kencang. Dalam hati aku bertanya-tanya ada apa ini. Kenapa anak ini menangis dan meminta tolong kepada ku? Aku mencoba untuk menenangkan diri. Kemudian aku melepaskan kedua tangannya yang kecil yang sedang memeluk ku.
“A… ada apa, dik??” Tanyaku terbata-bata. Aku merendahkan tubuhku dan memegang kedua tangannya. Anak kecil ini tampak lucu sekali. Rambutnya pendek dan ikal. Mirip waktu ku kecil. Dia memakai T-Shirt berwarna putih polos. Tampak serasi dengan celanya yang pendek berwarna hitam. Tubuhnya gemuk. Mungkin usianya kurang lebih tujuh tahun.
Air matanya terus mengalir deras. Aku jadi kasihan kepadanya. “Kenapa kamu sendirian disini?” Lanjutku. “Dan orang tuamu kemana?”
“Ayo, tunjukkan kepada kakak dimana tempat tinggalmu.” Aku berdiri dan mengajaknya untuk menunjukkan dimana dia tinggal.
“Tolong bawa aku pergi dari sini Kak, sebelum dia datang!” Anak itu memelas sambil menarik-narik tanganku.
“Di… dia siapa??” Tanyaku terbata-bata. Aku penasaran bercampuk aduk dengan rasa takut dan gugup. Pikirku, pasti ini ada yang tidak beres. “Di… dia siapa?? Apa ada orang yang menganggumu??” Lanjutku kemudian.
“LEPASKAN ANAK ITU, MANUSIA!!” Sontak suara itu mengejutkan ku. Suaranya terdengar sangat berat dan lantang dari samping kiri kami yang mengarah ke jalan setapak. Belum sempat aku menoleh, badanku sudah didorong dan terpental ke tanah yang banyak kerikilnya. Posisi jatuhnya pun sangat tidak enak. Aku jatuh dengan posisi tengkurap.
Rasa sakitnya menjalar keseluruh tubuh. Aku memejamkan mata ku selama beberapa detik. Menunggu rasa sakitnya hilang. Kemudian dengan susah payah aku perlahan-lahan berdiri.
Aku membalikkan badanku lagi. Tapi belum sempat Aku berkata-kata, mata ku terbelalak dan mulutku terngangah melihat sosok seram yang sedang berhadapan denganku sekarang. Hari sudah sangat gelap ditambah dengan hembusan angin yang kencang. Membuatku tidak dapat berkata apa-apa. Jantungku terpompa sangat cepat, dan perutku terasa seperti diaduk-aduk. Namun untungnya Aku masih bisa berpikir sehat. Dalam hati aku terus membaca do’a.
Badannya tinggi besar. Tubuhnya kekar dipenuhi dengan bulu-bulu hitam. Dia terus memelotot menatapku dengan mata yang bersinar terang seperti mata kucing dimalam hari. Makhluk itu seperti menghipnotisku. Tubuhku gemetar hebat dan terpaku.
Makhluk itu mencoba mencengkeram tubuhku dengan kuku-kukunya yang panjang. Akhirnya dengan do’a dan lindungan dari Yang Maha Kuasa aku dapat juga menggerakkan tubuhku. Aku masih sepenuhnya sadar. Kulihat anak kecil tadi sudah tidak ada lagi. Lenyap begitu saja seperti ditelan bumi. Tanpa pikir panjang, aku bergegas dari tempat itu dan berlari sekencang-kencangnya. Untunglah Makhluk menyeramkan itu tidak sampai mengejarku. Mungkin dia juga berpikir dua kali karena Aku dibentengi oleh ayat-ayat suci.
Sesampainya didepan rumah, aku mengedor pintu sekuat-kuatnya. Ibu ku membukakan pintu dan kaget dengan keadaanku yang kacau balau.
“Ada apa nak. Kenapa kau terlihat seperti ketakutan sekali? Dan kenapa bajumu sampai kotor begini??” Tanya ibu keheran-heranan. Aku tidak dapat menjawab apa-apa, karena masih syok dengan apa yang baru saja Aku alami. Kemudian Ibu menyodorkan ku segelas air.
Aku membaringkan badanku di atas ranjang. Rasa sakitnya masih menggerogoti tubuhku. Sambil menyilangkan kedua tangan dibawah kepala ku, Aku mengingat kembali kejadian yang baru saja ku alami tadi. Diluar kamar nampak terdengar suara rintik hujan diiringi suara petir yang bersahut-sahutan. Mungkinkah anak tadi adalah anak laki-laki yang hilang di danau itu?? Tanyaku dalam hati. Dan Makhluk tadi pasti ada kaitannya dengan hilangnya anak laki-laki tersebut. Air mata ku mengalir. Mungkin karena iba dengan nasib anak tersebut. Tak dapat kubayangkan dia tinggal di danau yang gelap pekat tiap malam bersama Makhluk yang sangat menyeramkan. Aku melirik ke arah jam dinding yang tepat berada diseberangku. Jarumnya sudah hampir menunjuk ke arah angka dua belas.
Esok harinya, Aku baru menceritakan semua kejadian yang Aku alami kemarin kepada Ayah dan Ibu ku. Ayah dan Ibu seolah tidak percaya dengan apa yang didengar oleh mereka. Meskipun begitu, mereka tetap memperingatkan ku untuk tidak melewati jalan itu lagi setelah pulang kuliah. Meskipun jalan tersebut adalah jalan pintas menuju rumah kami.
Aku pun tidak pernah lagi melewati jalan tersebut meskipun pada siang hari.
Hari ini pulang kuliah lebih cepat. Cuaca pun sangat bagus sore ini. Langit tampak cerah dan berwarna kemerah-merahan menandakan matahari sudah melayang rendah. Aku melewati jalan lain yang lebih jauh dari jalan pintas itu. Lagi asik-asik bersiul tiba-tiba saja ada anak kecil berlari memotong jalanku dari belakang. Rambutnya ikal, memakai T-Shirt warna putih dan celana pendek berwarna hitam. Sepertinya Aku pernah melihat anak laki-laki ini sebelumnya??

" MENGAPA LIDAH KELU DISAAT AJAL MENJEMPUT ?? " ☪══════════════­═­­­­­­══════════════­═­­­­­­════☪


Mengapa kebanyakan orang yang hampir ajal tidak dapat berkata apa-apa.
Lidahnya kelu, keras dan hanya mimik mukanya yang menahan kesakitan 'sakaratul maut' ...

Diriwayatkan sebuah hadist.

“Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika adzan. Jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya”

Ini jelas menunjukkan bahwa kita disarankan agar mendiamkan diri.
Jangan berkata apa-apa pun sewaktu adzan berkumandang.
Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati adzan.

JIKA LAGU KEBANGSAAN NEGARA BERKUMANDANG, K­ITA DIAJARKAN AGAR BERDIRI TEGAK DAN DIAMKAN DIRI.
Lantas Mengapa ketika adzan kita tidak bisa mendiamkan diri ?

“Barang siapa yang berkata-kata ketika adzan, Allah akan kelukan lidahnya ketika sakaratul maut”

Na'udzubillahim­­ indzalik.

Kita takut dengan kelunya lidah kita saat ajal hampir tiba, maka kita tidak dapat mengucap kalimat “Lailahaillalla­h”

Yang mana siapapun yang dapat mengucapkan kalimat itu ketika nyawanya akan dicabut, Allah degan izin-Nya menjanjikan syurga untuk kita.

Karena itu, mari kita sama-sama menghormati adzan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak kelu sewaktu nyawa kita hendak dicabut.

Ya Allah ...
Anugerahkanlah kematian kami dengan kematian yang baik lagi mulia.
Lancarkan lidah kami mengucapkan kalimah “Lailahaillalla­h” sewaktu sakaratul maut menghampiri kami.

Aamiin ... Aamiin ... Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

" 11 GOLONGAN AHLI NERAKA " ☪═══════════════­­­­­­════☪


Firman Allah SWT dalam surah al-Naba ayat 18:
"Yaitu hari (yang pada waktuitu) ditiup sangkakala lalu
kamu datang berkelompok-kelompok."

Adalah diriwayatkan bahwa ayat yang tersebut diatas
pernah ditanyakan olehSaidina Muaz bin Jabal,
katanya, "Ya Rasulullah, apa maksudnya ayat ini?" Maka Rasulullah SAW menangis sebelum menjawab pertanyaan tersebut karena inilah yang
selalu dibimbangkan oleh baginda.

Lalu baginda menjawab:

"Ya Muaz, umatku kelak apabila bangkit dari kubur
akan menjadi 12 golongan.
Sebanyak 11 golongan akan memasuki neraka dan hanya 1
golongan sahaja yang akan memasuki syurga. Adapun 11
golongan yang memasuki neraka adalah seperti berikut:

1.Mereka yang tidak mempunyai kaki dan tangan.
Ini adalah kerana mereka suka menyakiti hati jiran tetangga.

2.Mereka yang menyerupai babi.
Ini adalah balasan bagi orang yang suka meninggalkan solat lima waktu.

3.Mereka yang perutnya besar seperti gunung dan dipenuhi dengan ular dan kala.
Inilah balasan bagi mereka yang enggan mengeluarkan zakat.

4.Mereka yang keluar darah dari mulutnya.
Inilah balasan mereka yang berdusta.

5.Mereka yang berbau busuk seluruh badannya.
Ini adalah balasan mereka yang mengaut keuntungan dalam jual beli atas penipuan.

6.Mereka yang dicincang-cincang pada tengkuk dan bahu.
Ini adalah balasan mereka yang menyaksikan maksiat atau perbuatan jahat namun diam saja.

7.Mereka yang keluar dengan tidak berlidah dan keluar nanah dan darah dari mulut.
Ini balasan mereka yang tidak mau mengatakan kebenaran.

8.Mereka yang keluar dalam keadaan terbalik iaitu kepala
dibawah dan kakinya keatas.
Ini adalah balasan mereka yang berzina serta mati sebelum bertaubat.

9.Mereka yang berwajah hitam, bermata biru dan
perutnya penuh api.
Ini balasan mereka yang memakan harta anak yatim secara zalim.

10.Mereka yang kulitnya penuh kudis dan penyakit2 lain yang menjijikan.
Ini adalah balasan mereka yang berani melawan kedua ibu
bapanya.

11.Meraka yang buta matanya dan hatinya, giginya seperti
tanduk, bibirnya berjuntai hingga keperut, dari perut dan
pehanya keluar kotoran.
Ini adalah balasan mereka minum minuman keras.

Dan satu golongan yang masuk ke syurga ialah:

12.Mereka yang wajahnya bagaikan bulan purnama,
berjalan di atas titian Mustaqim pantas seperti kilat.
Ini balasan orang yang beramal salih dan menjauhi maksiat serta mendirikan
solat lima waktu dan mati dalam keadaan bertaubat."

" 7 KEAJAIBAN DUNIA (NEW!) " ☪════════­═­­­­­­­­═­═­­­­­­­═­­­­­­­­═­═­­­­­­­══­══ ☪


Seorang guru memberikan tugas kepada siswa-siswanya untuk menuliskan 7 keajaiban dunia. Tepat sebelum kelas usai, siang itu semua siswa di minta untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing.

Seorang gadis kecil yang paling pendiam di kelas itu mengumpulkan tugasnya paling akhir dengan ragu-ragu. Tidak ada seorangpun yang memperhatikan hal itu.

Malamnya sang guru memeriksa tugas siswa-siswanya.­Sebagian besar siswa menulis seperti ini:

7 Keajaiban Dunia:
1. Ka'bah
2. Candi Borobudur
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Menara Eiffil
6. Taj mahal
7. Piramida

Lembar demi lembar memuat hal yang hampir sama. Beberapa perbedaan hanya terdapat pada urutan penulisan daftar 7 keajaiban tersebut. Tapi guru itu terus memeriksa sampai lembar yang paling akhir.

Saat memeriksa lembar yang paling akhir itu, sang guru terdiam. Lembar terakhir milik gadis kecil pendiam.
Isinya seperti ini:

7 Keajaiban Dunia:
1. Bisa Melihat
2. Bisa Mendengar
3. Bisa Berbicara
4. Bisa Menyentuh
5. Bisa Berjalan
6. Bisa Tertawa
7. Bisa Merasakan

Setelah duduk diam beberapa saat, sang guru menutup lembaran tugas siswa-siswanya.­Kemudian menundukkan kepalanya sambil berdo'a. Mengucap syukur untuk gadis kecil pendiam di kelasnya yang telah mengajarkan sebuah pelajaran berharga, yaitu:

''Tidak perlu mencari sampai ke ujung bumi untuk menemukan keajaiban. Karena keajaiban itu ada di sekeliling kita''