Sabtu, 02 Agustus 2014
Zanjabil, Zingiber, Ginger, Jahe - Minuman Surga?
Zanjabil, Zingiber, Ginger, Jahe - Minuman Surga?
Jahe adalah rimpang dari tanamanyang bernama ilmiah Zingiber officinale, berasal dari bahasa Yunani zingiberi dan bahasa Sansekerta singaberi. Tanaman ini meminjamkan namanya menjadi nama genus dan famili nya (Zingiberaceae). Anggota terkenal lainnya dari famili ini adalah kunyit, kapulaga, dan lengkuas. Jahe dikonsumsi sebagai makanan lezat, obat-obatan, atau rempah-rempah.

Kingdom: Plantae
Order: Zingiberales
Family: Zingiberaceae
Genus: Zingiber
Species: Z. officinale
Sejarah
Sampai saat ini para ahli masih belum tahu secara persis darimana tanaman jahe berasal, meski khasiat jahe telah dikenal sejak ribuan tahun silam. Para ahli masih berbeda pendapat tentang asal-usul tanaman ini. Sebagian memperkirakan bahwa jahe berasal dari India dan telah dikenal sejak 2000 SM, kemudian diperdagangkan ke Tiongkok, Jepang, Asia Tenggara hingga Timur Tengah. Sebagian lainnya mengatakan jahe berasal dari Tiongkok.
Holtikultur
Jahe tergolong tanaman tahunan, berbatang semu, berdiri tegak dengan tinggi antara 30-70 cm. Batang berwarna hijau sedangkan pangkal batang berwarna putih hingga kemerahan. Bentuk batang silindris dan halus. Ia tumbuh mendatar dekat permukaan tanah dan bercabang. Bagian terpenting tanaman jahe adalah akar tongkatnya yang disebut rimpang.
Sampai saat ini para ahli masih belum tahu secara persis darimana tanaman jahe berasal, meski khasiat jahe telah dikenal sejak ribuan tahun silam. Para ahli masih berbeda pendapat tentang asal-usul tanaman ini. Sebagian memperkirakan bahwa jahe berasal dari India dan telah dikenal sejak 2000 SM, kemudian diperdagangkan ke Tiongkok, Jepang, Asia Tenggara hingga Timur Tengah. Sebagian lainnya mengatakan jahe berasal dari Tiongkok.
Holtikultur
Jahe tergolong tanaman tahunan, berbatang semu, berdiri tegak dengan tinggi antara 30-70 cm. Batang berwarna hijau sedangkan pangkal batang berwarna putih hingga kemerahan. Bentuk batang silindris dan halus. Ia tumbuh mendatar dekat permukaan tanah dan bercabang. Bagian terpenting tanaman jahe adalah akar tongkatnya yang disebut rimpang.
Jika dipotong, tampak warna daging rimpang yang bervariasi, mulai dari putih kekuningan, kuning, atau jingga. Rasa jahe secara umum adalah pedas karena mengandung senyawagingerol. Aromanya yang merangsang dan harum ditimbulkan oleh kandungan minyak asiri yang berwarna kuning dan kental.
Daun jahe berselang seling teratur, dengan panjang 15-23 cm dan lebar 0,8-2,5 cm. Tangkai daun berbulu dan panjangnya 2-4 mm. Lidah daun tidak berbulu dan panjangnya 0,75-1 cm. Warna permukaan atas daun lebih tua daripada permukaan bawah. Bunga tumbuh dari rimpangnya, terpisah dari daun atau batang semunya. Bunga tersebut berupa malai yang tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur. Gagang bunga hampir tidak berbulu dengan panjang sekitar 25 cm, sedangkan rakisnya sedikit berbulu. Sisik pada tangkai bunga berjumlah 5-7, berbentuk lanset dan letaknya berdekatan.
Daun pelindung bunga berwarna cerah, berbentuk bulat telur atau sunsang dan tidak berbulu. Dalam daun pelindung terdapat 1-8 bunga. Mahkota bunga kuning kehijauan berbentuk tabung, helainya sempit, bibirnya ungu gelap dan berbintik-bintik putih kekuningan. Kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm, sedangkan tangkai putiknya ada dua.
Daun jahe berselang seling teratur, dengan panjang 15-23 cm dan lebar 0,8-2,5 cm. Tangkai daun berbulu dan panjangnya 2-4 mm. Lidah daun tidak berbulu dan panjangnya 0,75-1 cm. Warna permukaan atas daun lebih tua daripada permukaan bawah. Bunga tumbuh dari rimpangnya, terpisah dari daun atau batang semunya. Bunga tersebut berupa malai yang tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bulat telur. Gagang bunga hampir tidak berbulu dengan panjang sekitar 25 cm, sedangkan rakisnya sedikit berbulu. Sisik pada tangkai bunga berjumlah 5-7, berbentuk lanset dan letaknya berdekatan.
Daun pelindung bunga berwarna cerah, berbentuk bulat telur atau sunsang dan tidak berbulu. Dalam daun pelindung terdapat 1-8 bunga. Mahkota bunga kuning kehijauan berbentuk tabung, helainya sempit, bibirnya ungu gelap dan berbintik-bintik putih kekuningan. Kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm, sedangkan tangkai putiknya ada dua.

Jahe dibedakan jenisnya berdasarkan aroma, warna, bentuk dan ukuran rimpang. Terdapat tiga jenis jahe yaitu:
1. Jahe Putih Besar; Rimpangnya kuning, seratnya sedikit dan lembut. Aromanya kurang tajam dan rasanya kurang pedas.
2. Jahe Putih Kecil; Rimpangnya agak pipih berwarna putih, berserat lembut dan beraroma tidak tajam.
3. Jahe Merah; mempunyai rimpang yang paling kecil dibandingkan dua jahe lainnya, berwarna merah hingga jingga muda. Seratnya kasar, aromanya tajam dan rasanya sangat pedas
Semua jenis jahe diatas mengandung minyak asiri.
Manfaat Jahe
Secara tradisional manfaat jahe telah dikenal luas. Di India jahe segar dimanfaatkan untuk mengobati rasa mual, asma, batuk dan rasa nyeri yang hebat. Jahe juga dipakai untuk mengatasi jantung berdebar-debar, gangguan pencernaan, nafsu makan menurun dan rematik.
1. Jahe Putih Besar; Rimpangnya kuning, seratnya sedikit dan lembut. Aromanya kurang tajam dan rasanya kurang pedas.
2. Jahe Putih Kecil; Rimpangnya agak pipih berwarna putih, berserat lembut dan beraroma tidak tajam.
3. Jahe Merah; mempunyai rimpang yang paling kecil dibandingkan dua jahe lainnya, berwarna merah hingga jingga muda. Seratnya kasar, aromanya tajam dan rasanya sangat pedas
Semua jenis jahe diatas mengandung minyak asiri.
Manfaat Jahe
Secara tradisional manfaat jahe telah dikenal luas. Di India jahe segar dimanfaatkan untuk mengobati rasa mual, asma, batuk dan rasa nyeri yang hebat. Jahe juga dipakai untuk mengatasi jantung berdebar-debar, gangguan pencernaan, nafsu makan menurun dan rematik.
Untuk obat batuk, sari jahe dicampur jus bawang putih segar dan madu, sedangkan untuk meredakan mual, jahe segar ditambah sedikit madu dan sejumput bulu burung merka bakar. Bubuk jahe segar juga bisa dicampur air, kemudian diaduk hingga berbentuk pasta dan dioleskan di pelipis untuk meredakan sakit kepala.
Seperti di India, jahe juga telah lama digunakan di negeri Tirai Bambu. Di Tiongkok ini jahe dibedakan menjadi jahe segar dan jahe kering. Jahe kering dipakai sebagai bahan baku obat oleh seorang tabib yang hidup pada zaman kaisar Shen Nong (2000M). Dua buku medis yang membahas khasiat jahe segar pada tahun 500 M juga ditemukan di Tiongkok. Jahe kering digunakan untuk menyembuhkan nyeri lambung, nyeri perut, diare, batuk dan rematik. Sedangkan jahe segar untuk mengatasi masuk angin, keracunan dan rasa mual.
Seperti di India, jahe juga telah lama digunakan di negeri Tirai Bambu. Di Tiongkok ini jahe dibedakan menjadi jahe segar dan jahe kering. Jahe kering dipakai sebagai bahan baku obat oleh seorang tabib yang hidup pada zaman kaisar Shen Nong (2000M). Dua buku medis yang membahas khasiat jahe segar pada tahun 500 M juga ditemukan di Tiongkok. Jahe kering digunakan untuk menyembuhkan nyeri lambung, nyeri perut, diare, batuk dan rematik. Sedangkan jahe segar untuk mengatasi masuk angin, keracunan dan rasa mual.

Dunia medis modern memberi dukungan terhadap penggunaan ramuan tradisional jahe. Hasil penelitian menyatakan bahwa ekstrak jahe, baik jahe segar maupun jahe kering, berkhasiat mengatasi infeksi bakteri, infeksi jamur, kejang, nyeri, luka dan gangguan lambung, tumor, kram dan reaksi alergi. Uji laboratorium juga memperlihatkan bahwa jahe menghambat oksidasi sehingga dapat mengurangi resiko penyakit kanker dan menghambat pertumbuhan kuman.
Jahe juga bermanfaat memperlancar sirkulasi darah. jahe punya khasiat anti pembekuan darah yang lebih hebat daripada bawang putih atau bawang merah. Jahe mampu menurunkan kadar kolesterol karena bisa mengurangi penyerapan kolesterol dalam darah dan hati. Jahe juga dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan mengurangi laju aliran darah perifer.
Minuman yang terbuat dari jahe segar dapat menurunkan sekresi asam lambung selama beberapa jam. Akar jahe keringjuga akan memperkuat lambung, usus halus dan mencegah muntah. Ekstrak aseton dan metanol yang berasal dari jahe mempunyai efek yang kuat untuk menghambat terjadinya luka pada lambung.
Gingerol mampu mengatasi efek keracunan pada hati dengan jalan meningkatkan aasam empedu. Minyak jahe dapat mencegah kanker kulit pada tikus. Kajian di Universitas Michigan memperlihatkan bahwa gingerol dapat membunuh sel-sel kanker ovarium. Dan Pusat riset ruang angkasa NASA pernah meneliti khasiat jahe untuk mengatasi mabuk para awaknya.
Jahe juga bermanfaat memperlancar sirkulasi darah. jahe punya khasiat anti pembekuan darah yang lebih hebat daripada bawang putih atau bawang merah. Jahe mampu menurunkan kadar kolesterol karena bisa mengurangi penyerapan kolesterol dalam darah dan hati. Jahe juga dapat menurunkan tekanan darah dengan jalan mengurangi laju aliran darah perifer.
Minuman yang terbuat dari jahe segar dapat menurunkan sekresi asam lambung selama beberapa jam. Akar jahe keringjuga akan memperkuat lambung, usus halus dan mencegah muntah. Ekstrak aseton dan metanol yang berasal dari jahe mempunyai efek yang kuat untuk menghambat terjadinya luka pada lambung.
Gingerol mampu mengatasi efek keracunan pada hati dengan jalan meningkatkan aasam empedu. Minyak jahe dapat mencegah kanker kulit pada tikus. Kajian di Universitas Michigan memperlihatkan bahwa gingerol dapat membunuh sel-sel kanker ovarium. Dan Pusat riset ruang angkasa NASA pernah meneliti khasiat jahe untuk mengatasi mabuk para awaknya.
Kandungan nutrisi dalam Jahe Segar/Basah dan Jahe Kering per 100 gram

Minuman Surga
Begitu banyak manfaat jahe yang telah diketahui, dan masih besar kemungkinan manfaat jahe yang belum diketahui ditemukan. Para ilmuwan muslim seharusnya juga melakukan penelitian mengenai jahe, karena jahe juga disebut dalam Al Quran surat Al-Insaan ayat 17 sebagai minuman para penghuni surga:
Begitu banyak manfaat jahe yang telah diketahui, dan masih besar kemungkinan manfaat jahe yang belum diketahui ditemukan. Para ilmuwan muslim seharusnya juga melakukan penelitian mengenai jahe, karena jahe juga disebut dalam Al Quran surat Al-Insaan ayat 17 sebagai minuman para penghuni surga:

Di dalam syurga itu mereka diberi segelas minum (minuman) yang campurannya adalah jahe. (QS 76:17)
Dari tafsir ayat diatas terlihat bahwa salah satu gambaran tentang surga yang diberikan Al-Quran adalah segelas minuman yang akan diberikan kepada penghuninya, yaitu minuman bercampur Zanzabil atau Jahe. Dua hal yang menarik dari penggambaran ini adalah ukuran dan jenis minuman.
Ayat Quran diatas seharusnya mengusik hati. Mengapa jahe dijadikan campuran minuman di surga? mengapa bukan yang lain? Apakah jahe merupakan tanaman favorit di Arab ketika Al Quran diturunkan? Atau zanjabil hanyalah peminjaman kata arab untuk menggambarkan sesuatu yang mirip jahe di surga? Orang-orang yang tinggal di daerah panas, seperti jakarta, surabaya atau makassar tentu akan lebih tertarik bila diiming-imingi es kelapa muda, atau jus alpukat, lemon tea atau capucino.
Pertanyaan pertanyaan diatas seharusnyalah mendorong para ilmuwan muslim untuk lebih meneliti Jahe atau Zanzabil ini Obyeknya banyak dan mudah dijumpai, landasan dan dalilnya juga sangat jelas. Mereka harus mengkaji keutamaan dan keistimewaan jahe sehingga dijadikan minuman surgawi.
Jahe memang telah menjadi bahan penelitian yang cukup intensif. Ratusan hasil penelitian tentang jahe telah dipublikasikan. Melihat hal tersebut, kita hanya bisa bergumam, "Sayangnya, yang meneliti bukan ilmuwan muslim yang memperoleh inspirasi dari Quran ...."
Wallahualam
Dari tafsir ayat diatas terlihat bahwa salah satu gambaran tentang surga yang diberikan Al-Quran adalah segelas minuman yang akan diberikan kepada penghuninya, yaitu minuman bercampur Zanzabil atau Jahe. Dua hal yang menarik dari penggambaran ini adalah ukuran dan jenis minuman.
Ayat Quran diatas seharusnya mengusik hati. Mengapa jahe dijadikan campuran minuman di surga? mengapa bukan yang lain? Apakah jahe merupakan tanaman favorit di Arab ketika Al Quran diturunkan? Atau zanjabil hanyalah peminjaman kata arab untuk menggambarkan sesuatu yang mirip jahe di surga? Orang-orang yang tinggal di daerah panas, seperti jakarta, surabaya atau makassar tentu akan lebih tertarik bila diiming-imingi es kelapa muda, atau jus alpukat, lemon tea atau capucino.
Pertanyaan pertanyaan diatas seharusnyalah mendorong para ilmuwan muslim untuk lebih meneliti Jahe atau Zanzabil ini Obyeknya banyak dan mudah dijumpai, landasan dan dalilnya juga sangat jelas. Mereka harus mengkaji keutamaan dan keistimewaan jahe sehingga dijadikan minuman surgawi.
Jahe memang telah menjadi bahan penelitian yang cukup intensif. Ratusan hasil penelitian tentang jahe telah dipublikasikan. Melihat hal tersebut, kita hanya bisa bergumam, "Sayangnya, yang meneliti bukan ilmuwan muslim yang memperoleh inspirasi dari Quran ...."
Wallahualam
Maung dan Legenda Siliwangi
Maung dan Legenda Siliwangi
Dunia keilmuan Antropologi mengenal teori sistem simbol yang diintrodusir oleh Clifford Geertz, seorang Antropolog Amerika. Dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebudayaan (1992), Geertz menguraikan makna dibalik sistem simbol yang ada pada suatu kebudayaan. Antropolog yang terkenal di tanah air melalui karyanya “Religion of Java” itu menyatakan bahwa sistem simbol merefleksikan kebudayaan tertentu. Jadi, bila ingin menginterpretasi sebuah kebudayaan maka dapat dilakukan dengan menafsirkan sistem simbolnya.

Sistem simbol sendiri merupakan salah satu dari tiga unsur pembentuk kebudayaan. Kedua unsur lainnya adalah sistem nilai dan sistem pengetahuan. Menurut Geertz, relasi dari ketiga sistem tersebut adalah sistem makna (System of Meaning) yang berfungsi menginterpretasikan simbol dan, pada akhirnya, dapat menangkap sistem nilai dan pengetahuan dalam suatu kebudayaan.
Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnyanga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.
Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung”[1]. Ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa).
Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang. Namun tinjauan historis tersebut bukanlah bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun, masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai fakta sejarah, termasuk penulis sendiri.
Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.
Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).
Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnyanga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.
Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung”[1]. Ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa).
Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang. Namun tinjauan historis tersebut bukanlah bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun, masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai fakta sejarah, termasuk penulis sendiri.
Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.
Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).
Kisah lain yang berkaitan dengan menjelmanya Prabu Siliwangi menjadi harimau adalah legenda hutan Sancang atau leuweung Sancang di Kabupaten Garut. Konon di hutan inilah Prabu Siliwangi beserta para loyalisnya menjelma menjadi harimau atau maung. Proses penjelmaannya pun terdapat dalam beragam versi. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada yang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menjelma menjadi maung setelah menjalani tapadrawa. Tetapi ada pula sebagian masyarakat Sunda yang berkeyakinan bila Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi harimau karena keteguhan pendirian mereka untuk tidak memeluk agama Islam. Menurut kisah tersebut, Prabu Siliwangi menolak bujukan putranya yang telah menjadi Muslim, Kian Santang, untuk turut memeluk agama Islam. Keteguhan sikap itu yang mendorong penjelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikutnya menjadi maung. Akhirnya, Prabu Siliwangi pun berubah menjadi harimau putih, sedangkan para pengikutnya menjelma menjadi harimau loreng.
Hingga kini kisah harimau putih sebagai penjelmaan Siliwangi itu masih dipercayai kebenarannya oleh masyarakat di sekitar hutan Sancang. Bahkan, kisah ini menjadi semacam kearifan lokal (local wisdom). Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung hutan yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia akan “berhadapan” dengan harimau putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi. Tidak masuk akal memang, namun di sisi lain, hal demikian dapat dipandang sebagai sistem pengetahuan masyarakat yang berhubungan dengan ekologi. Masyarakat leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan, sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos harimau putih jelmaan Siliwangi lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.
Namun, serangkaian kisah yang mendeskripsikan korelasi antara Prabu Siliwangi dengan mitos maung itu tetap saja menyisakan pertanyaan besar, apakah itu semua merupakan fakta sejarah? Siapa Prabu Siliwangi sebenarnya dan darimanakah mitos maung itu muncul pertama kali?
Nama Candi dan Kisah Dibaliknya
Nama Candi dan Kisah Dibaliknya
Mengapa warga Sleman, Yogya lebih mengenal nama Candi Jonggrang dibanding nama aslinya, Candi Prambanan? Dan, konon Candi Borobudur awalnya adalah biara? Ternyata banyak cerita menarik di balik nama-nama candi. Beberapa diantaranya sebagai berikut.
1. Candi Prambanan

Berbicara soal Candi Prambanan berarti harus memahami legenda Bandung Bondowoso. Ia adalah orang sakti yang ingin mengawini Puteri Loro Jonggrang, anak Prabu Ratuboko.
Loro Jonggrang tidak mempunyai hati terhadap Raden BandungBondowoso. Sebab ayahnya terbunuh di tangan sang Raden. Karena itulah ia mengajukan syarat, bersedia menikah asal Bandung Bondowoso membuat sebuah istana yang berisi seribu arca dalam waktu semalam saja. Konon, Raden Bandung meminta bantuan pasukan jin untuk menyelesaikan tugasnya
Setelah mendengar laporan istana hampir selesai, Puteri Loro Jonggrang memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang pertanda pagi sudah tiba, dan ayampun berkokok bergantian.
Loro Jonggrang tidak mempunyai hati terhadap Raden BandungBondowoso. Sebab ayahnya terbunuh di tangan sang Raden. Karena itulah ia mengajukan syarat, bersedia menikah asal Bandung Bondowoso membuat sebuah istana yang berisi seribu arca dalam waktu semalam saja. Konon, Raden Bandung meminta bantuan pasukan jin untuk menyelesaikan tugasnya
Setelah mendengar laporan istana hampir selesai, Puteri Loro Jonggrang memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang pertanda pagi sudah tiba, dan ayampun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang, para jin berhenti membuat candi. Mereka melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba.
Tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi belum tiba. Dipanggillah Putri Loro Jonggrang dan disuruh menghitung candi. Ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum jadi tinggal satu candi lagi. Sehingga Putri Loro Jonggrak tidak mau dipersunting oleh Raden Bandung.
Karena merasa ditipu dan dipermainkan, Raden Bandung murka dan mengutuk Putri Loro Jonggrang, “Hai Loro Jonggrang, candi kurang satu dan agar genap seribu, engkaulah orangnya”. Aneh bin ajaib, Putri Loro Jonggrang berubah wujud menjadi arca patung batu.
Tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi belum tiba. Dipanggillah Putri Loro Jonggrang dan disuruh menghitung candi. Ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum jadi tinggal satu candi lagi. Sehingga Putri Loro Jonggrak tidak mau dipersunting oleh Raden Bandung.
Karena merasa ditipu dan dipermainkan, Raden Bandung murka dan mengutuk Putri Loro Jonggrang, “Hai Loro Jonggrang, candi kurang satu dan agar genap seribu, engkaulah orangnya”. Aneh bin ajaib, Putri Loro Jonggrang berubah wujud menjadi arca patung batu.

Legenda ini sangat populer, sehingga penduduk setempat lebih mengenal nama Loro Jonggrang daripada nama Prambanan. Jangan heran, kondektur bus yang menuju tempat wisata ini lebih sering berteriak "Jonggrang...Jonggrang," dan bukan, "Prambanan."
Padahal, nama Candi Prambanan diberikan karena letaknya ada di Desa Prambanan. Lagipula, arca Loro Jonggrang yang ada di candi tersebut sebenarnya menggambarkan Dewi Durga, istri Dewa Siwa.
2. Candi Sari
Tak jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jalan raya Yogyakarta - Solo ada Candi Sari. Mengapa diberi nama demikian? Dulu, saat pertama kali ditemukan, banyak orang terkagum-kagum dengan batu-batu berukir yang jadi bagian dari candi ini.
Padahal, nama Candi Prambanan diberikan karena letaknya ada di Desa Prambanan. Lagipula, arca Loro Jonggrang yang ada di candi tersebut sebenarnya menggambarkan Dewi Durga, istri Dewa Siwa.
2. Candi Sari
Tak jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jalan raya Yogyakarta - Solo ada Candi Sari. Mengapa diberi nama demikian? Dulu, saat pertama kali ditemukan, banyak orang terkagum-kagum dengan batu-batu berukir yang jadi bagian dari candi ini.

Setelah pemugaran selesai, mereka mengibaratkannya dengan kemolekan seorang gadis. Jadinya, sebagai penghormatan pada candi tersebut, diberilah nama Candi Sari. Dalam bahasa Jawa artinya lebih-kurang: Molek.
3. Candi Tikus

Candi Tikus yang berada di kompleks Trowulan, Jawa Timur diberi nama demikian karena pada awal penemuannya, di sela-sela batu candi yang masih berantakan banyak dijumpai sarang tikus.
4. Candi Asu Sengi
Letak Candi Asu Sengi tidak jauh dari lokasi tempat wisata CandiGedong Songo yang terletak di dusun Darum desa Candi, Magelang.
4. Candi Asu Sengi
Letak Candi Asu Sengi tidak jauh dari lokasi tempat wisata CandiGedong Songo yang terletak di dusun Darum desa Candi, Magelang.

Nama “Asu” berasal dari bahasa jawa yang berarti “Anjing”. Nah, terdapat kekeliruan dengan nama candi ini. Saat awal ditemukan, situs candi ini belum diberi nama. Namun, di dekat candi ada sebuah arca berbentuk hewan.
Nah, penduduk sekitar menganggap arca itu berwujud anjing, karena itulah diberi nama Candi Asu. Sesungguhnya, arca yang telah hilang dicuri orang tersebut adalah ujud lembu suci, atau arca Nandiswara - atau Nandi. Lembu ini adalah kendaraan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.
Nah, penduduk sekitar menganggap arca itu berwujud anjing, karena itulah diberi nama Candi Asu. Sesungguhnya, arca yang telah hilang dicuri orang tersebut adalah ujud lembu suci, atau arca Nandiswara - atau Nandi. Lembu ini adalah kendaraan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.
5. Candi Wurung
Di daerah Magelang ada juga Candi Wurung. Pertama kali ditemukan, masyarakat sekitar menafsirkan bahwa candi itu belum "urung" (bahasa Jawa, artinya "rampung/selesai"). Memang, situs yang satu ini berbentuk gundukan tanah yang berada di tengah sawah. Hanya terlihat onggokan kecil tertutup rumput, seolah candi yang belum selesai dibangun.
6. Candi Borobudur
Nama Candi Borobudur masih terus diperdebatkan hingga kini. Menurut penduduk setempat, Borobudur bermakna “arca di Desa Budur”. Konon, dulu setiap hari penduduk selalu melihat banyak boro (= arca) di Desa Budur.
6. Candi Borobudur
Nama Candi Borobudur masih terus diperdebatkan hingga kini. Menurut penduduk setempat, Borobudur bermakna “arca di Desa Budur”. Konon, dulu setiap hari penduduk selalu melihat banyak boro (= arca) di Desa Budur.

Pendapat kedua mengatakan, nama Borobudur berasal dari pohon budur (pohon bodhi atau pohon kehidupan) yang pernah tumbuh subur di sana.
Sementara dari penelitian ilmiah, J.L. Moens, istilah budur artinya kota Budha. Karena dalam kitab kuno Nagarakretagama penyebutan budur sudah ada.
Lain lagi menurut Poerbatjaraka, ahli epigraf Indonesia, nama Borobudur berasal dari kata biara (tempat suci) dan bidur (tempat tinggi), yang kemudian “diplesetkan” menjadi borobudur.
***
Jadi, sebagian besar candi-candi yang ada di Indonesia hanya sedikit yang dinamakan sesuai dengan apa yang diesebutkan dalam naskah kuno. Artinya, sesuai nama asli. Seperti misalnya saja Candi Jawi, sesuai dengan nama bangunan suci Jajawa. Atau kata "Jajaghu" kini untuk nama Candi Jago - terjadi penyederhanaan nama. Dua nama candi itu disebut dalam kitab Nagarakretagama dari abad ke-14.
Kebanyakan pemberian nama candi sesuai wilayahnya, atau dari masyarakat sendiri.
Sementara dari penelitian ilmiah, J.L. Moens, istilah budur artinya kota Budha. Karena dalam kitab kuno Nagarakretagama penyebutan budur sudah ada.
Lain lagi menurut Poerbatjaraka, ahli epigraf Indonesia, nama Borobudur berasal dari kata biara (tempat suci) dan bidur (tempat tinggi), yang kemudian “diplesetkan” menjadi borobudur.
***
Jadi, sebagian besar candi-candi yang ada di Indonesia hanya sedikit yang dinamakan sesuai dengan apa yang diesebutkan dalam naskah kuno. Artinya, sesuai nama asli. Seperti misalnya saja Candi Jawi, sesuai dengan nama bangunan suci Jajawa. Atau kata "Jajaghu" kini untuk nama Candi Jago - terjadi penyederhanaan nama. Dua nama candi itu disebut dalam kitab Nagarakretagama dari abad ke-14.
Kebanyakan pemberian nama candi sesuai wilayahnya, atau dari masyarakat sendiri.
isteri Lenyapnya 50 Ribu Tentara Persia Terungkap Lewat Tulisan Kuno Ini
Tulisan Kuno Ini

Misteri Lenyapnya 50 Ribu Tentara Persia Terungkap Lewat Tulisan Kuno Ini

Pada 524 sebelum masehi, sebanyak 50 ribu tentara bangsa Persia dikirim ke Mesir melewati padang pasir oleh Raja Cambyess II. Namun, setelah memasuki gurun, puluhan ribu tentara itu seolah lenyap, misterius dan tak pernah terdengar lagi kabarnya.
Selama berabad-abad lamanya, sebagian besar yakin bahwa mereka telah hilang setelah ditelan oleh badai gurun yang mematikan. Namun kini peneliti mengklaim bahwa hal itu tidak terjadi. Hilangnya puluhan ribu tentara ini diduga kuat akibat dari sebuah pertempuran dahsyat.
Adapun pada abad ke 5 sebelum masehi, seorang sejarawan Yunani, Herodotus menulis bahwa hilangnya para tentara itu lebih pada faktor ketidakberuntungan akibat badai pasir. Terkait hal ini, seorang pakar sejarah Mesir dari Universitas Leiden, Profesor Olaf Kaper berkali-kali menolak keras klaim tersebut. "Pencarian sudah dilakukan sejak abad ke 19, mulai dari kalangan amatir bahkan oleh mereka yang sudah berpengalaman dan para arkeolog," tegasnya.
"Kami berharap bisa menemukan ada jejak di bawah tanah, atau bahkan harapan kami bisa menemukan mereka yang terkubur, tapi tidak ada," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan studi yang pernah dilakukan, kecil kemungkinan seluruh pasukan itu bisa lenyap oleh badai pasir.
Oleh karena itu, ia berasumsi bahwa lenyapnya puluhan ribu tentara itu bukan karena ditelan badai pasir, melainkan mereka telah dikalahkan dalam sebuah peperangan.
"Dari penelitian saya menujukan bahwa para tentara ini tak hanya melewati gurun pasir, tujuan akhir mereka yakni Dachla Oasis, lokasi ini merupakan pusat basis massa pemberontak Mesir yang dipimpin oleh Petubastis III," jelasnya.
Kaper menjelaskan bahwa temuan ini diperoleh secara tidak sengaja. Dalam sebuah proyek kerjasama dengan Universitas New York dan Universitas Lecce, ia telah melibatkan diri dalam penelitian ini selama sekitar sepuluh tahun terakhir termasuk diantaranya melaksanakan proses eskavasi di Ameheida, di Dachla Oasis. Hasil kerja kerasnya ini memberikan hasil. Awal tahun ini, ia berhasil menerjemahkan dokumen kuno dalam sebuah lempengan batu kuil yang memuat daftar lengkap siapa saja orang-orang yang dianugerahi mahkota Petubastis III.
"Batu kuil ini kami yakin merupakan bagian dari benteng yang dibangun pada periode awal Persia. Kami yakin bisa merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi jika kami berhasil menggabungkan sejumlah informasi terbatas tentang Petubastis III ini dengan hasil ekskavasi ditambah dengan informasi dari kisah Herodotus," paparnya.
Faktanya, nasib tentara Cambyses tetap belum jelas dalam waktu yang sangat lama.
Adapun kisah ini, menurut sejarawan Yunani Herodotus (484-425 SM), Cambyses putra dari Cyrus Agung mengirimkan bala tentaranya dari Thebes untuk menyerang Oasis pada 524 sebelum masehi. Misi mereka saat itu yakni untuk menghancurkan oracle di Kuil Amun stelah tetua di wilayah ini menolak untuk melegitimasi klaimnya atas Mesir. Setelah melakukan perjalanan melelahkan selama tujuh hari melentasi gurun pasir, para tentara ini dikabarkan telah berhasil mencapai Oasis yang oleh para peneliti disebutkan bahwa ini merupakan El-Kharga yang lokasinya 190 kilometer di sebelah barat Sungai Nil di Gurun Libya. Saat itu, disebutkan datang badai pasir yang melumat para tentara hingga tak pernah diketahui lagi nasibnya.
"Angin muncul dari arah selatan, sangat kuat dan mematikan, angin ini ikut serta membawa badai pasir yang berputar sangat kuat, seluruhnya menutupi para tentara hingga menyebabkan mereka hilang tak berbekas," demikian catatan yang dibuat oleh Herodotus.
Penelitian terbaru Profesor Kaper menolak hal itu. Ia menegaskan bahwa tidak ada badai pasir, melainkan bahwa tentara mereka kalah dalam peperangan kemudian membuat cerita tentang badai pasir itu untuk menutupi kekalahan yang memalukan tersebut.
Selama berabad-abad lamanya, sebagian besar yakin bahwa mereka telah hilang setelah ditelan oleh badai gurun yang mematikan. Namun kini peneliti mengklaim bahwa hal itu tidak terjadi. Hilangnya puluhan ribu tentara ini diduga kuat akibat dari sebuah pertempuran dahsyat.
Adapun pada abad ke 5 sebelum masehi, seorang sejarawan Yunani, Herodotus menulis bahwa hilangnya para tentara itu lebih pada faktor ketidakberuntungan akibat badai pasir. Terkait hal ini, seorang pakar sejarah Mesir dari Universitas Leiden, Profesor Olaf Kaper berkali-kali menolak keras klaim tersebut. "Pencarian sudah dilakukan sejak abad ke 19, mulai dari kalangan amatir bahkan oleh mereka yang sudah berpengalaman dan para arkeolog," tegasnya.
"Kami berharap bisa menemukan ada jejak di bawah tanah, atau bahkan harapan kami bisa menemukan mereka yang terkubur, tapi tidak ada," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan studi yang pernah dilakukan, kecil kemungkinan seluruh pasukan itu bisa lenyap oleh badai pasir.
Oleh karena itu, ia berasumsi bahwa lenyapnya puluhan ribu tentara itu bukan karena ditelan badai pasir, melainkan mereka telah dikalahkan dalam sebuah peperangan.
"Dari penelitian saya menujukan bahwa para tentara ini tak hanya melewati gurun pasir, tujuan akhir mereka yakni Dachla Oasis, lokasi ini merupakan pusat basis massa pemberontak Mesir yang dipimpin oleh Petubastis III," jelasnya.
Kaper menjelaskan bahwa temuan ini diperoleh secara tidak sengaja. Dalam sebuah proyek kerjasama dengan Universitas New York dan Universitas Lecce, ia telah melibatkan diri dalam penelitian ini selama sekitar sepuluh tahun terakhir termasuk diantaranya melaksanakan proses eskavasi di Ameheida, di Dachla Oasis. Hasil kerja kerasnya ini memberikan hasil. Awal tahun ini, ia berhasil menerjemahkan dokumen kuno dalam sebuah lempengan batu kuil yang memuat daftar lengkap siapa saja orang-orang yang dianugerahi mahkota Petubastis III.
"Batu kuil ini kami yakin merupakan bagian dari benteng yang dibangun pada periode awal Persia. Kami yakin bisa merekonstruksi apa yang sebenarnya terjadi jika kami berhasil menggabungkan sejumlah informasi terbatas tentang Petubastis III ini dengan hasil ekskavasi ditambah dengan informasi dari kisah Herodotus," paparnya.
Faktanya, nasib tentara Cambyses tetap belum jelas dalam waktu yang sangat lama.
Adapun kisah ini, menurut sejarawan Yunani Herodotus (484-425 SM), Cambyses putra dari Cyrus Agung mengirimkan bala tentaranya dari Thebes untuk menyerang Oasis pada 524 sebelum masehi. Misi mereka saat itu yakni untuk menghancurkan oracle di Kuil Amun stelah tetua di wilayah ini menolak untuk melegitimasi klaimnya atas Mesir. Setelah melakukan perjalanan melelahkan selama tujuh hari melentasi gurun pasir, para tentara ini dikabarkan telah berhasil mencapai Oasis yang oleh para peneliti disebutkan bahwa ini merupakan El-Kharga yang lokasinya 190 kilometer di sebelah barat Sungai Nil di Gurun Libya. Saat itu, disebutkan datang badai pasir yang melumat para tentara hingga tak pernah diketahui lagi nasibnya.
"Angin muncul dari arah selatan, sangat kuat dan mematikan, angin ini ikut serta membawa badai pasir yang berputar sangat kuat, seluruhnya menutupi para tentara hingga menyebabkan mereka hilang tak berbekas," demikian catatan yang dibuat oleh Herodotus.
Penelitian terbaru Profesor Kaper menolak hal itu. Ia menegaskan bahwa tidak ada badai pasir, melainkan bahwa tentara mereka kalah dalam peperangan kemudian membuat cerita tentang badai pasir itu untuk menutupi kekalahan yang memalukan tersebut.
Gapura Wringin Lawang, Jejak Kejayaan Majapahit
Gapura Wringin Lawang, Jejak Kejayaan Majapahit
Gapura Wringin Lawang adalah sebuah gapura peninggalan kerajaan Majapahit abad ke-14 yang berada di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Bangunan ini terletak tak jauh ke selatan dari jalan utama di Jatipasar.
Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti 'Pintu Beringin'.
Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti 'Pintu Beringin'.
Struktur dan fungsi bangunan
Gapura agung ini terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya candi bentar atau tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali. Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleksbangunan penting di ibu kota Majapahit. Dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini mengundang banyak spekulasi, salah satu yang paling populer adalah gerbang ini diduga menjadi pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.
Gapura agung ini terbuat dari bahan bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada abad ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya candi bentar atau tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali. Kebanyakan sejarawan sepakat bahwa gapura ini adalah pintu masuk menuju kompleksbangunan penting di ibu kota Majapahit. Dugaan mengenai fungsi asli bangunan ini mengundang banyak spekulasi, salah satu yang paling populer adalah gerbang ini diduga menjadi pintu masuk ke kediaman Mahapatih Gajah Mada.

Orang Bunian, Mahluk Halus atau Hominid?
Orang Bunian, Mahluk Halus atau Hominid?
Suku-suku di wilayah-wilayah yang berlainan di Indonesia memiliki mitos, pendapat dan pandangan yang berbeda-beda terhadap orang-orang bunian. Ada yang berpendapat bahwa mereka adalah mahluk halus, ada yang menganggap mereka jenis kera yang belum diketahui dan ada juga yang menganggap mereka jenis manusia yang berbeda.

Pengertian "Orang Bunian" atau sekedar bunian di daerah Minangkabau adalah mitos sejenis makhluk halus. Berdasar mitos tersebut, orang bunian berbentuk menyerupai manusia dan tinggal di tempat-tempat sepi, di rumah-rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya dalam waktu lama.

Istilah orang bunian juga kadang-kadang dikaitkan dengan istilah dewa di Minangkabau, pengertian "dewa" dalam hal ini sedikit berbeda dengan pengertian dewa dalam ajaran Hindu maupun Buddha.

"Dewa" dalam istilah Minangkabau berarti sebangsa makhluk halus yang tinggal di wilayah hutan, di rimba, di pinggir bukit, atau di dekat pekuburan. Biasanya bila hari menjelang matahari terbenam di pinggir bukit akan tercium sebuah aroma yang biasa dikenal dengan nama "masakan dewa" atau "samba dewa". Aroma tersebut mirip bau kentang goreng. Hal ini dapat berbeda-beda namun mirip, berdasarkan kepercayaan lokal masyarakat Minangkabau di daerah berbeda. "Dewa" dalam kepercayaan Minangkabau lebih diasosiasikan sebagai bergender perempuan, yang cantik rupawan, bukan laki-laki seperti persepsi yang umum di kepercayaan lain.
Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa/orang bunian. Ada juga istilah "orang dipelihara dewa", yang saat bayi telah dilarikan oleh dewa. Mitos ini masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau sampai sekarang.
Di daerah Bengkulu, orang Bunian disebut juga sebabah yang merupakan satu bentuk yang mirip dengan manusia hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik. Lebih kedaerah pedalamannya lagi ada juga kisah tentang mahluk Gugua, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia. Konon pada zaman dahulu mahluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap mahluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan mahluk ini dengan penduduk lokal dan mempunyai keturunan.
Selain itu, masyarakat Minangkabau juga meyakini bahwa ada peristiwa orang hilang disembunyikan dewa/orang bunian. Ada juga istilah "orang dipelihara dewa", yang saat bayi telah dilarikan oleh dewa. Mitos ini masih dipercaya banyak masyarakat Minangkabau sampai sekarang.
Di daerah Bengkulu, orang Bunian disebut juga sebabah yang merupakan satu bentuk yang mirip dengan manusia hanya saja mereka bertubuh kecil dan berkaki terbalik. Lebih kedaerah pedalamannya lagi ada juga kisah tentang mahluk Gugua, yang mempunyai perawakan berbulu lebat, pemalu dan suka menirukan tingkah laku dan perbuatan manusia. Konon pada zaman dahulu mahluk ini bisa ditangkap. Masyarakat dahulu menangkap mahluk ini dengan menyiapkan sebuah perangkap. Ada juga kisah tentang perkawinan mahluk ini dengan penduduk lokal dan mempunyai keturunan.

Di gunung Sebelat (Taman Nasional Kerinci), Orang bunian dipercaya merupakan komunitas manusia hutan. Masyarakat setempat menyebutnya Uhang Pandak. Salah satu peniliti asing yang bernama Deborah Martyr begitu sangat tertarik dengan legenda ini dan melakukan penelitian, namun hingga saat ini penelitian tersebut belum menunjukkan hasil.
Istilah Uhang pandak adalah pengertian dari orang yang bertubuh pendek. Mereka merupakan mahluk yang keberadaannya telah diketahui sejak puluhan tahun yang lalu, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan mahluk ini. Keberadaan mereka sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mereka, banyak dari wisatawan dan peneliti mancanegara yang melakukan riset tentang alam Gunung Sebelat secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan mahluk ini.
Istilah Uhang pandak adalah pengertian dari orang yang bertubuh pendek. Mereka merupakan mahluk yang keberadaannya telah diketahui sejak puluhan tahun yang lalu, namun hingga saat ini sulit menemukan bukti fisik dan otentik tentang keberadaan mahluk ini. Keberadaan mereka sendiri sering dilaporkan oleh orang-orang yang secara tidak sengaja bertemu dengan mereka, banyak dari wisatawan dan peneliti mancanegara yang melakukan riset tentang alam Gunung Sebelat secara tidak sengaja bertemu dengan kumpulan mahluk ini.

Informasi yang berhasil dikumpulkan mampu memberikan gambaran tentang Uhang Pandak ini. Mereka adalah mahluk yang hidup di atas tanah, berjalan dengan kedua kakinya dengan tubuh yang diselimuti oleh bulu pendek (abu-abu hingga coklat) dan tinggi tubuh sekitar 80 cm hingga 150 cm. Beberapa ahli bahkan mengklasifikasikan Uhang Pandak sebagai bagian dari rantai evolusi yang mereka sebut “kera misterius”.
Selama tiga tahun terakhir, para peneliti lokal dan mancanegara telah menjelajah hutan dengan harapan dapat menemukan bukti keberadaan masyarakat Uhang Pandak. Mereka telah melakukan banyak cara dari mulai memasang kamera trapping di wilayah hutan terutama daerah dimana sering terjadi laporan penampakan para mahluk tersebut sampai dengan pembuatan perangkap untuk menangkap salah satu dari mahluk itu. Para ahli merasa kawatir jika memang eksistensi keberadaan Uhang Pandak ini ada, bukan tidak mungkin mereka sedang terancam kepunahan sebagai akibat dari aktivitas penebangan dan penghancuran lingkungan mereka.
Selain uhang pandak banyak komunitas orang bunian lain yang dipercaya oleh masyarakat di berbagai daerah. Sebagian kepercayaan tersebut bahkan mengatakan bahwa komunitas masyarakat orang bunian itu bukan komunitas mahluk halus, namun suatu mahluk yang mirip manusia yang memiliki sedikit perbedaan dengan mahluk manusia, ada yang beranggapan mereka adalah ras manusia tersendiri dan merupakan bagian dari ras mahluk manusia kuno.
Selama tiga tahun terakhir, para peneliti lokal dan mancanegara telah menjelajah hutan dengan harapan dapat menemukan bukti keberadaan masyarakat Uhang Pandak. Mereka telah melakukan banyak cara dari mulai memasang kamera trapping di wilayah hutan terutama daerah dimana sering terjadi laporan penampakan para mahluk tersebut sampai dengan pembuatan perangkap untuk menangkap salah satu dari mahluk itu. Para ahli merasa kawatir jika memang eksistensi keberadaan Uhang Pandak ini ada, bukan tidak mungkin mereka sedang terancam kepunahan sebagai akibat dari aktivitas penebangan dan penghancuran lingkungan mereka.
Selain uhang pandak banyak komunitas orang bunian lain yang dipercaya oleh masyarakat di berbagai daerah. Sebagian kepercayaan tersebut bahkan mengatakan bahwa komunitas masyarakat orang bunian itu bukan komunitas mahluk halus, namun suatu mahluk yang mirip manusia yang memiliki sedikit perbedaan dengan mahluk manusia, ada yang beranggapan mereka adalah ras manusia tersendiri dan merupakan bagian dari ras mahluk manusia kuno.

Pada tahun 2003 tim peneliti memutuskan untuk mengeksplorasi dan melakukan penggalian di Gua Liang Bua di Pulau Flores yang merupakan bagian dari rantai kepulauan Indonesia. Disana mereka menemukan kerangka yang hampir lengkap dari hominid (manusia purba) kecil. Tinggi dari kerangka wanita dewasa adalah sekitar 3 kaki 6 in dan dari karakteristiknya menunjukkan bahwa spesies baru manusia telah ditemukan. Ini diperkuat oleh penemuan alat dan artefak yang konsisten dengan ukuran kerangka tersebut. Ada juga indikasi bahwa "Orang-orang kecil" telah menggunakan api dan telah berburu berbagai hewan yang sekarang telah punah, termasuk tikus raksasa dan gajah mini yang dikenal sebagai Dwarf Stegodon. Tengkorak mereka memiliki dahi yang miring dan tidak ada tulang dagu spesifik meskipun memang memiliki gigi dan berjalan tegak seperti manusia. Meskipun masih ada beberapa kontroversi mengenai apakah Homo floresiensis adalah spesies baru atau mungkin hanya variasi dari manusia modern atau Homo Erectus, tidak ada keraguan bahwa populasi makhluk aneh mirip manusia pernah hidup di pulau itu.

Bahkan, menurut legenda setempat masih ada suku "orang kecil" yang hidup jauh di dalam hutan. Tengkorak mereka jauh lebih kecil daripada manusia modern, tetapi korteks prefrontal masih berukuran sama dengan manusia modern yang menunjukkan tingkat kecerdasan tinggi dan kesadaran diri (self-awareness). Banyak peneliti berpendapat bahwa Homo floresiensis ini bukanlah pigmi, kerdil, atau cebol, mereka adalah sesuatu yang unik. Dengan demikian, mereka diberi julukan - hobbit - atau Halfling, tokoh terkenal dari novel trilogi Lord of the Rings yang ditulis oleh JRR Tolkien (1954).
Apakah Homo Floresiensis ini ada hubungannya dengan orang bunian atau uhang pandak? Ataukah uhang pandak dan orang bunian adalah turunan homo floresiensis yang masih hidup? Mungkin andalah yang ingin menelitinya.
Apakah Homo Floresiensis ini ada hubungannya dengan orang bunian atau uhang pandak? Ataukah uhang pandak dan orang bunian adalah turunan homo floresiensis yang masih hidup? Mungkin andalah yang ingin menelitinya.
Artikel Terkait Legenda ,Misteri
- Nada Dering Dari Ponsel Milik Penumpang MH17 Yang Misterius
- Terungkap Misteri Wafatnya Pasien Setiap Jumat Pagi di Rumah Sakit Terkenal di Jakarta
- Babi Ngepet Berkepala Anjing Tertangkap di Bogor
- Fakta dan Misteri Seputar Jatuhnya MH17 di Ukraina
- Serba Kebetulan Misteri Angka 7 di #MH17
- Kembang Wijaya Kusuma Dan Penguasa Laut Selatan
- Ungkap Misteri Segitiga Bermuda Melalui Data Satelit
- Orang-Orang Indonesia yang Paling Misterius
- Seramnya Monster Lembah Huairou Beijing
- Curug Kodok dan Misteri Penjaga Yang Sakti
- Warga Batam Mengaku Mengetahui Keberadaan Malaysia Airlines MH370
- Misteri Pagar Berduri Air Panas Semurup Kerinci
- Maung dan Legenda Siliwangi
- Kisah-Kisah Kapal Hantu Paling Terkenal
- Nama Candi dan Kisah Dibaliknya
- Misteri Lenyapnya 50 Ribu Tentara Persia Terungkap Lewat Tulisan Kuno Ini
- Misteri dan Keunikan Jembatan Setan Rakotzbrücke
- Pagoda dan Candi yang Tenggelam dan Terungkap oleh Tsunami
- Gapura Wringin Lawang, Jejak Kejayaan Majapahit
- Struktur Misterius di Dasar Laut Galilea
Langganan:
Postingan (Atom)
Terungkaplagi
21.6.14 