Sabtu, 02 Agustus 2014

Gunung-Gunung di Jawa yang Menyimpan Misteri

Gunung-Gunung di Jawa yang Menyimpan Misteri

Terdapat beberapa gunung yang tersohor berkat misterinya. Beberapa gunung yang menyimpan misteri hingga kini antara lain:
Gunung Lawu

1202603_201308060951520476 

Gunung lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya, yakni: Harga Dalem, Harga Dumilah, dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di tanah jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pemasoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat misterius yang sering dipergunakan sebagai ajang kemampuan olah batin dan meditasi.
Konon katanya Gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah jawa dan berhubungab erat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan sura (muharam) yang dilakukan oleh keraton Yogyakarta.
Siapapun yang hendak pergi kepuncaknya, maka harus berbekal pengetahuan perihal wewaler (peraturan-peraturan) yang tertulis yakni larangan-larangan rertentu untuk tidak melakukan sesuatu baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan ini dilanggar, maka pelaku bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan (cakrasurya), dan Pringgadani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggalan Sang Prabu Bhrawijaya? Konon sebagai pengganti tugas kerajaan adalah pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai seorang sakti yang muksa di Ponorogo. Suatu wilayah Gunung Lawu di lereng tenggara.
Gunung Kelud

1202603_201308060955590043

Nama Gunung Kelud berasal dari jarwadhasak, yakni dari kata “ke” (kebak=penuh) dan “lud” (ludira=darah). Hal ini berarti bila murka, kelud bisa merenggut banyak korban jiwa tak berdosa. Menurut kepercayaan penduduk sekitar kawah, Gunung Kelud dijaga sepasang buaya putih yang konon merupakan jelmaan bidadari.
Legenda menceritakan, zaman dahulu kala ada dua bidadari sedang mandi di telaga tersebut. karena terlena, dua bidadari itu melakukan perbuatan intim dengan sesama jenis. Perbuatan tersebut rupanya diketahui oleh dewa. Karena kesal, sang dewapun mengutuk kedua bidadari tersebut menjadi buaya.
Sejak tahin 1000, kelud telah meletus sebanyak 23 kali. Interval letusannya rata-rata berlangsung setiap 15 tahun sekali. Paling pendek 3 tahunan, berlangsung pada tahun 1848. Tapi kelud pernah bersikap manis selama 37 tahun yang berlangsung pada tahun 1864-1901. Entah apa yang membuat kelud selama 37 tahun rak pernah sakit-sakitan. Barangkali para penunggunya merasa nyaman, karena warga sekitar rutin mengirim makanan kesehatan berupa aneka jenis sesaji, seperti yang kerap dilakukan oleh warga desa Sugihwaras.
Menurut catatan, sudah sebanyak 3 kali kelud sempat mengamuk berat, yakni tahun: 1919, 1951, dan 1966. Uniknya kalo direka-reka, angka tahun meletusnya itu sangat menarik, yakni selalu mengiringi peristiwa besar di Tanah Jawa. Misalkan saja: letusan 1951 yang menandai Pemberontakan Madiu . Kemudian ledakan 1966 yang terjadi setahun pasca G30S/PKI. pada tiga ledakan itu, material yang dimuntahkan meluncur ke bawah melalui Kali Badak, Kali Ngobo, Kali Putih, Kali Semut, dan Kali Ngoto.
Menurut sesepuh desa di sekitar Gunung Kelud, para korban itu sedang dikersakke oleh dua bidadari penunggu kawah. Bila laki-laki diperlakukan sebagai suamidan yang perempuan diangkat sebagai saudara. Warga menengarai, bila kelud akan meletus biasanya ada dua sorot sinar terang masuk ke kawah, atau banyak burung gagak berterbangan di pedesaan.
Gunung Semeru
1202603_201308060959460205

Gunung semeru yang puncaknya bernama Mahameru tersebut adalah gunung tertinggi di tanah jawa. Letaknya berada di Proponsi Jawa Timur dan bersanding dengan Gunung Bromo dan Gunung Arjuna, meskipun tidak sedekat hubungannya dengan Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di Jawa Tengah.
Gunung Semeru yang berketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut tersebut memiliki banyak kisah menarik bagi para pendaki. Sosok Shoe Hoek Gie, tokoh tahun 70-an itu memiliki hubungan erat dengan Gunung Semeru. Di tempat itu, Hoek Gie menghembuskan napas terakhirnya. Untuk naik ke Semeru jalur yang banyak ditempuh adalah melalui kota Malang. dari Malang menuju Ranu Pane dan selanjutnya menuju ke Ranu Kumbolo. dilokasi ini terdapat danau sehingga para pendaki sering menghabiskan malam untuk istirahat dan menikmati keindahan danau dari atas ketinggian.
Perjalanan dari Ranu Kumbolo, para pendaki akan dipertemukan dengan daerah yang ditumbuhi hutan lebat. Dari sini, banyak kisah yang bernuansa mistik terjadi. Konon banyak yang menyebut kawasan hutan tersebut adalah hutan mistis. Sebab, tak jarang pendaki tersesat di hutan tersebut meski sudah berulang kali mendaki Semeru. Orang Jawa mengatakan, oyot kesimpar. Artinya, seseorang akan dibuat linglung dan hanya berputar-putar di jalan sama dalam waktu panjang.
Selepas hutan, kita akan bertemu dataran lapang yangemyimpan banyak misteri. inilah yang dinamakan arcapada (arca kembar). Dalam legenda Semeru diceritakan bahwa di tempat tersebut terdapat dua buah arca yang berdiri kembar. Pendirinya adalah prajurit dari jaman kerajaan Majapahit. Hanya saja keberadaan arca tersebut tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Hanya orang yang memiliki kelebihan saja yang bisa mengetahui keberadaan arca kembar tersebut. Dan yang melihatnya memiliki beragam versi terkait wujud arca kembar tersebut. Ada yang mengatakan arca tersebut sebesar anak kecil. Namun ada juga yang mengatakan bahwa arca tersebut sangat besar sehingga bisa terlihat dari jauh seperti dari Ranu Kumbolo. Selain itu, bagi orang biasa yang terpilih pun bisa menyaksikan keberadaan arca tersebut.
Gunung Merapi
1202603_201308061002560023
Sejak zaman dahulu, misteri Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah ini memang menarik perhatian dan sering dibicarakan masyarakat. Misteri ini tidak lepas dari segala hal gaib yang terkadang menjadi ciri khas gunung ini. Gunung Merapi sendiri adalah salah satu gunung vulkanik teraktif di Indonesia.
a. Penunggu Merapi
Misteri Gunung Merapi tidak bisa lepas dari kepercayaan banyak orang bahwa di gunung itu hidup berbagai makhluk halus yang sekaligus menjadi penguasanya. Menurut penduduk setempat, Eyang Merapi adalah raja para makhluk halus di Merapi. Penduduk setempat mempercayai bahwa Eyang Sapu Jagad merupakan jin penguasa Merapi yang menentukan apakah gunung akan meletus atau tidak. Karenanya di jaman dulu, Raja Yogyakarta sering memberi sesaji agar Eyang Sapu Jagad tidak marah.
Sementara Eyang Megantara dipercayai sebagai pengendali cuaca di sekitar Gunung Merapi. Nyi Gadung Melati dipercaya sebagai pimpinan para makhluk halus wanita dan bertugas untuk menjaga kesuburan tanaman di wilayah tersebut. Eyang Antalboga dipercaya sebagai penjaga keseimbangan Gunung Merapi di permukaan bumi. Mbah Petruk dipercaya sebagai pemuka jin yang akan memberi tanda tentang kapan Merapi akan meletus. Kyai Sapu Angin dipercaya menjaga ternak dan semua hewan di Gunung Merapi. Makhluk halus yang satu ini sangat akrab di telinga penduduk setempat, karena jin ini sering mendatangi penduduk.
b. Pasar Bubrah
Cerita gaib lainnya yang cukup membuat merinding adalah pasar makhluk halus. ini juga merupakan misteri Gunung Merapi yang cukup dikenal masyarakat luas. Menurut cerita almarhum Mbah Marijan, Setiap malam Jumat akan ada pasar Bubrah yang merupakan pasar para makhluk halus. Setiap malam jumat akan terdengar kegaduhan mirip pasar seperti pasar pada umumnya. Suara alunan gamelan dan gending (musik/lagu) Jawa akan kedengar. Ada beberapa pendaki Gunung Merapi yang sudah membuktikan kebenaran mitos Pasar Bubrah ini.
Seperti daerah angker lainnya, Gunung Merapi terkadang meminta tumbal. Misteri Gunung Merapi ini memang sulit dipercaya bagi orang di luar kawasan Merapi. Namun realitasnya, beberapa pendaki menjadi korban di Gunung Merapi. Penduduk percaya bahwa itu merupakan tanda bahwa penguasa Merapi sedang menginginkan tumbal. Penduduk setempat mempercayai bahwa tumbal yang akan diambil penguasa Merapi adalah orang yang bertabiat buruk maupun orang yang membuatnya marah.
c. Awan Mbah Petruk
Sebelum terjadi erupsi pada awal bulan November tahun 2010, masyarakat setempat digemparkan oleh penampakan awan Mbah Petruk yang berhasil tertangkap kamera oleh seorang warga Magelang bernama Suswanto. Terdapat cerita menarik yang sempat beredar di masyarakat tentang awan Mbah Petruk yang terlihat menoleh ke kanan. Petruk sendiri adalah salah satu tokoh pewayangan Jawa yang sering diibaratkan sebagai seorang rakyat. Saat dimainkan oleh dalang, wajah Petruk biasanya selalu menoleh ke kiri. tidak hanya itu, awan Mbah Petruk yang mengarah ke selatan juga merupakan pertanda bahwa kemarahannya akan lebih difokuskan ke wilayah selatan Merapi. Akhirnya pada 5 November 2010, sesuai kepercayaan masyarakat akan pertanda dari awan Mbah Petruk, terjadi erupsi Gunung Merapi dengan letusan dahsyat dan menimbulkan banyak korban.
Gunung Sumbing
1202603_201308061007470182
Hasil pemetaan penunggu Gunung Sumbing yang sangat misterius itu merupakan suatu pengalaman fenomental dan subyrktif. Pemetaan ini merupakan kolaborasi hasil diskusi antara pendaki yang senang menikmati atmosfir mistis Gunung Sumbing. Berikut hasil pemetaan yang pernah dilakukan sekelompok pendaki yang tidak mau disebutkan namanya :
a. Kilometer 1-2
Perjalanan kilometer 1-2 akan melewati sebuah jembatan. Di jembatan itu, terdapat banyak makhluk berjejer dengan segala bentuk. Termasuk raksasa besar berwarna hitam yang dipercaya sebagai penunggu utama Gunung Sumbing.
b. Kilometer 2-4
Perjalanan memasuki kilometer 2 yang didominasi oleh lahan penduduk dan juga hutan belukar yang menyatu dengan pepohonan pinus. Ketika memasuki hutan belukar, Para pendaki mulai mencium bau rokok kemenyan yang sering dihisap oleh simbah-simbah dijawa. Ternyata disepanjang jalan itu banyak makhluk yang mirip orang-orang tua yang sedang duduk menghisap rokok menyan.
c. Kilometer 4-Pasar Watu
Kilometer 4-5, medan semakin sulit dan terjal. Karena itu, para pendaki harus mengikuti jalan air yang berpasir. Semakin tinggi, bentuk makhluk halus yang menghuni Gunung Sumbing adalah menyerupai manusia. pada kilometer ini, mereka bertemu dengan orang tua bersorban dan berjanggut putih layaknya seorang pertapa.
d. Pasar Watu-Tanah Putih
Di pasar watu, sesosok wanita berambut panjang menampakan diri. Menurut salah seorang dari mereka, ia adalah sundel bolong. Begitu pula di Watu Kotak, ada beberapa wanita dan ibu-ibu berasanggul dan juga orang tua berjubah putih. Di perjalanan Watu Kotak ke Tanah Putih, mereka melihat sesosok pertapa berpakaian hitam sedang duduk bersila.
Gunung Merbabu
1202603_201308061010240436
Pasar setan! Sepertinya perkataan ini sangat naif saatterdengar di telinga kita. Tapi fenomena ini sudah lama beredar dilingkungan masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merbabu. Salah satu gunung yang dikeramatkan di Tanah Jawa. Konon di puncak, atau barang kali juga di salah satu bagian Gunung Merbabu terdapat pasar setan.
Menurut keterangan warga setempat, keberadaan Pasar Setan itu memang ada. Dan ini sudah tidak asing lagi bagi warga di lereng Merbabu. Sementara itu, menyangkut lima jasad wanita yang menempel di perbukitan dan seseorang yang mati dalam posisi bersemedi itu adalah para korban. Namun kejadian tersebut dirahasiakan oleh warga, karena bila membocorkan rahasia itu mereka akan menerima musibah. Konon kebanyakan korban menimpa pasa orang yang bermaksud mencari pesugihan atau orang yang tidak ijin ketika akan memasuki Pasar Setan
Gunung Slamet
1202603_201308061012420113 
Gunung Slamet (3.432 meter) merupakan salah satu gunung berapi yang terdapat di pulau jawa. Gunung Slamet yang berada di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, dan Pemalang ini adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di pulau Jawa. Terdapat empat kawah di puncak Gunung Slamet yang semuanya masih aktif. Menurut cerita orang tua, Gunung Slamet memang berbeda dengan gunung lain di Tanah Jawa. Gunung Slamet memang bukan gunung yang biasa didaki untuk tujuan wisata, hobi, atau sekadar ingin mnaklukan puncaknya, melainkan pendakian ke puncaknya untuk tujuan semisal spiritual.
Dalam istilah bahasa Indonesia, kata slamet berarti selamat. Karenanya semenjak jaman kakek buyut hingga sekarang, Gunung Slamet tidak pernah terbatuk-batuk apalagi meletus. Namun bila Gunung Slamet meletus, maka akan terbelahnya pulau Jawa menjadi dua bagian.
Gunung Gede
1202603_201308061014160697 
Kadangkala pendaki yang berada di kawasan alun-alun Suryakencana akan mendengar suara kaki kuda tang berlarian, tetapi kuda tersebut tidak terlihat wujudnya. Konon kenadian ini ditangkap sebagai pertanda Pangeran Suryakencana datang ke alun-alun dengan dikawal oleh para prajurit. Selain itu para pendaki terkadang akan melihat sesuatu bangunan istana.
Kawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Bersama rakyat jin, beliau menjadikan alun-alun sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, Kebun Kelala Salawe Tangkal, dan Salawe Manggar. Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun dan disebut Batu Dongdang yang dijaga Embah Layang Gading. Sumber air yang berad di tengah alun-alun, semula merupakan jamba. untuk keperluan minum dan mandi.
Eyang Jayanusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada di sebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu di halaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah ingin dibancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya.

Gunung Ciremai
1202603_201308061016080731 

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat. Tinggi Gunung Ciremai mencapai 3.078 meter dpl. Bagi sebagian masyarakat Kuningan dan sekitarnya, gunung Ciremai diyakini sebagai asal muasal nenek moyang orang Jawa Barat.
Misteri Gunung Ciremai pun ramai terlahir dari daerah-daerah itu. Misalnya, beberapa situs yang dianggao angker, keramat, dan penuh misteri, seperti situs kubhran kuda, konon didaerah ini terdapat kuburan kuda milik tentara jepang. Jija melewati daerah ini sering terdengar suara kaki kuda. Cerita yang datang dari daerah Pangasungan cukup menyeramkan. Pada malam-malam tertentu sering terdengar jeritan atau derap langkah kaki serdadu jepang. Menurut catatan sejarah, Pengangsungan adalah tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia.
Gunung Salak
1202603_201308061017430966 
Gunung Salak tidak setinggi gunung tetangga ya, Gunung Gede. Namun tingkat kesulitan yang dimiliki Gunung Salak begitu angker untuk didaki. Termasuk keberadaan Kawah Ratu yangada di wilayahnya. Dengan banyaknya jalur menuju puncak Gunung Salak dan saling bersimpangan ini tentu akan membungungkan para pendaki. Disebutkan oleh banyak orang, bahwa lokasi ini menyimpan harta karun peninggalan belanda. Harta karun itu berupa emas murni yang dimasukan dalam peti, dan dikuburdi empat titik terpisah di area Gunung Salak. Sementara warga yang mencoba mencari harta karun di sekitar Kawah Ratu banyak yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak.

Kata Kunci Pencarian:

Jumat, 01 Agustus 2014

Sungai Opak, Tempat Keramat Untuk Mengalap Berkah

Sungai Opak, Tempat Keramat Untuk Mengalap Berkah




Yogyakarta - Triyono dan Maryono, tewas setelah melakukan tirakat kungkum (berendam) di Sungai Opak, Desa Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Apa keistimewaan Sungai Opak yang menjadi tempat bersemedi dua pemuda naas itu? Secara fisik Sungai Opak tidak ada bedanya dengan sungai-sungai di jawa lainnya. Airnya tidak terlalu jernih agak kehijau-hijauan dengan lebar sekitar 30 meter. Tepian sungai ini dipenuhi oleh semak belukar dan pohon bambu. Namun siapa sangka, banyak orang menganggap Sungai Opak mempunyai kekuatan tersendiri. Mereka yakin jika melakukan ritual kungkum di sungai ini bisa meraih apa yang diinginkan, baik itu jodoh maupun pekerjaan. "Mereka yang melakukan tiakat kungkum di Sungai Opak yakin bisa mendapatkan berkah. Yang sudah bekerja kariernya menjadi lebih baik dan yang masih nganggur bisa segera mendapat pekerjaan," kata Suharsono, warga setempat, Jumat (30/3/2007). Tirakat kungkum di pertemuan dua sungai memang sering dilakukan masyarakat Jawa. Seperti yang dilakukan oleh Triyono, Maryoko dan orangtuanya. Mereka sering melakukan tirakat kungkum (berendam) tiap malam Jumat atau malam Selasa. Terlebih bila malam-malam Jumat atau Selasa itu bertepatan dengan hari pasaran Kliwon (tanggalan Jawa), dianggap lebih afdhal untuk melakukan tirakat kungkum. Keinginan yang diharapkan pun diyakini bakal terkabul. Di Yogyakarta, ada sejumlah tempat keramat yang biasa digunakan untuk tirakat kungkum. Tempat-tempat itu antara lain, pertemuan Sungai Kontheng dan Sungai Bedhog di Desa Tamantrto Kasihan Bantul, pertemuan Sungai Gajahwong dan Sungai Opak di Wonokromo Pleret, pertemuan Sungai Oya dan Sungai Opak di Srihardono Pundong, serta pertemuan Sungai Code dan Opak di Trimulyo Jetis Bantul dan lain-lain. Di tempat-tempat keramat ini, para pencari berkah rela berendam di dinginnya malam hingga berjam-jam. Meski terkadang nyawa mereka menjadi taruhan, seperti yang dialami Triyono dan Maryoko. (djo/djo)
 

Dua pemuda tampak khusyuk berdoa saat Surabaya Post memasuki cungkup makam Syekh Asngari atau Sunan Bejagung, Desa Bejagung, Kecamatan Semanding,  petang.

Beberapa detik kemudian keduanya beringsut, lalu menyandarkan tubuhnya ke tiang cungkup. Mungkin mereka merasa terusik dengan kedatangan Surabaya Post.

Sorot mata mereka memancarkan kecurigaan. Benar saja, kedua pemuda itu bahkan enggan menyebut namanya saat Surabaya Post mencoba beramah-tamah. Mereka hanya mengaku berasal dari Desa Sumberejo, Kecamatan Widang.

Menurut mereka, sudah dua hari keduanya berada di makam Sunan Bejagung. "Kami merasa tidak yakin lolos CPNS. Saingannya banyak sedang kami tidak punya uang untuk meminta bantuan orang yang dekat pejabat. Dengan tirakat saya berharap dapat kemudahan mengerjakan soal ujian CPNS," ujar seorang dari mereka.

Kedua pemuda tersebut yakin makam Sunan Bejagung adalah tempat tepat untuk melakukan ritual. Menurut mereka, banyak yang terselesaikan masalahnya setelah melakukan ritual tirakatan di tempat tersebut.

"Saya mendapat saran tetangga, katanya makan Sunan Bejagung memiliki karomah lebih tinggi dibanding makam wali-wali lain di Tuban. Ya, saya mencoba ke mari," ujarnya.

Sementara pengurus makam Sunan Bejagung, Iskandar, mengatakan, sang sunan merupakan salah seorang penyebar Islam yang diyakini sebagai nenek moyang masyarakat Kecamatan Semanding.

Makam ini selalu dipadati peziarah menjelang event-event penting seperti ujian CPNS, pemilu, pilkades dan sebagainya. Bahkan tak jarang, kata Iskandar, pejabat datang agar bisa naik jabatan. "Mereka percaya karomah Syekh Asy'ari bisa membantu memudahkan tercapainya cita-cita," terang Iskandar.

Selain makam Sunan Bejagung atau Syekh Asy'ari, para pendaftar CPNS juga tampak memadati makam-makam wali lainnya seperti makam Ibrahim Ash-Shomarqondy di Desa Kradenan, Kecamatan Palang, makam Syekh Lemah-bang atau Siti Jenar di Kelurahan Gedong Ombo, Kecamatan Semanding, makam Syekh Geseng di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, dan beberapa makam wali lainnya.

Bukan hanya itu, tempat-tempat keramat selain makam juga tampak didatangi, kendati tidak seramai di makam-makam wali tersebut.

Taufik (24 tahun), warga Desa Jenu, Kecamatan Jenu yang ditemui di petilasan wali Goa Gembul, Desa Jadi Kecamatan Semanding, misalnya, mengaku lebih sreg ritual di tempat keramat non makam wali. Alasannya, tempat seperti itu biasanya tidak banyak dikunjungi pelaku ritual. "Kalau tirakat di sini bisa lebih tenang," kata Taufik.

Menanggapi fenomena tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Desa Sumurgung Kecamatan Kota Tuban, KH Yahya Romli, SH, mengatakan, ramainya pendaftar CPNS ritual di tempat-tempat keramat sebenarnya bukan hal aneh.

Menurutnya, ziarah ke tempat-tempat keramat memang tidak dilarang, asal tahu batas-batasnya. "Kalau untuk meminta sesuatu, jelas dilarang agama. Itu menunjukkan masyarakat kita masih belum memiliki rasa percaya diri," katanya.
 
GUNUNG BROMO  TEMPAT UPACARA YANG DIKERAMATKAN BAGI PUNDUDUK TENGGER


Bromo diambil dari seorang Dewa Utama Hindu yang bernama BRAHMA, gunung tersebut masih aktif seperti gunung berapi yang lain. Sebagai tempat wisata Gunung Bromo adalah primadona dari Jawa Timur yang letaknya berada di empat wilayah yaitu Probolinggo, Lumajang Pasuruan Malang.

Gunung Bromo mempunyai ketinggian sekitar 2.392 meter dari permukaan laut. Posisi Gunung Bromo berhadapan dengan lembah dan lautan pasir yang luasnya sekitar 10 km, garis tengahnya sekitar 800 meter (utara – selatan) dan 600 Meter (barat – timur)

Untuk menuju lokasi Bromo perjalanannya begitu sulit berdebu karena harus melalui lautan pasir yang begitu luas. Maka dari itu kendaraan biasa tidak disarankan untuk melewati daerah tersebut. Jadi harus menggunakan kendaraan JEEP atau kuda yang sudah dipersiapkan oleh pengelolah wisata, atau pungunjung bisa berjalan kaki menuju daerah wisata tersebut. Meskipun perjalanannya begitu sulit dan berdebu tapi wisatawan dalam maupun luar negeri tidak merasa lelah ,capek karena yang dilewati pemandangannya begitu indah melihat padang pasir yang begitu luas, dan kanan maupun kiri diapit oleh pegunungan. Kita kalau sudah ada disana kita merasa kecil, disitulah kita seakan akan ada dalam genggamanNYA.

Masyarakat disana Gunung Bromo dianggap sebagai tempat yang suci, maka dari itu setiap tahun sekali ditempati upacara YADNYA KASODO. Pusat ritual tersebut ditempatkan di pure dan dilanjutkan kepuncak Bromo , upacara tersebut dilaksanakan ditengah malam, yang bertepatan pada tanggal 14 -15 dibulan Kasodo menurut kalender jawa yang bertepatan bulan purnama.
Pada sa’at ritual tersebut masyarakat suku tengger memohon kepada TUHAN YANG MAHA ESA kemudahan dalam segala hal, kesembuhan penyakit, panen berlimpah ruah, tolak balak dll bagi yang melempar kekawah Bromo, sementara masyarakat yang lain turun ketebing kawah sambil menangkap sesaji sebagai persembahan dari sang Maha Pencipta.

Pos
Apabila Makam Keramat Membela Diri

Ada kuburan bisa “membela diri” di Tanjung Priok. Ribuan orang yang bernafsu akan menggusur makam keramat terkena tulah. Korban berjatuhan. Luka-luka dan konon korban jiwa tak terelakkan.

Masyarakat dan pengagum sohibul makam tersinggung. Harga diri dan ketakziman pada tokoh yang wafat abad ke 18 itu menggerakkan mereka melakukan perlawanan.

Terlanjur, mereka terlanjur menganggap makam itu keramat, sehingga tidak boleh ada upaya paksa untuk menodai kekeramatannya.

Terlanjur, aparat Satpol PP terlanjur taat pada penguasa, sehingga resiko berhadap-hadapan dengan batu, kayu bahkan clurit dan pedang mereka hadapi. Banyak darah berceceran. Banyak kepala yang bocor dan kulit terluka robek dan lebam.

Banyak mobil dibakar. Yang pasti banyak amarah meluap-luap. Saling menerkam. Saling melempar. Saling memukul dan melukai. Melihat tayangan kerusuhan di televisi itu, terasa begidik. Salah satu pasalnya adalah; kuburan yang dikeramatkan dan putusan pengadilan.

Dari sisi iman, saya percaya bahwa orang rela mati demi keimanannya.

Saya percaya, masih banyak umat Islam yang begitu takzim pada seorang ulama meskipun ketakziman itu berpindah pada kuburannya. Mengingat jasanya yang besar dan kiprahnya bagi kelanggengan dakwah Islam.

Makamnya diziarahi dan do’a dikirimkan. Karena begitu takzimnya, bahkan do’a dan permintaan berbalik arah. Karena anggapan keramatnya, do’a dan permintaan dalam ziarah bukan lagi dipanjatkan untuk kesejahteraan penghuni kubur. Malah mereka yang datang, mereka yang hidup, mereka yang segar bugar, meminta “sesuatu” kepada orang mati. Dan seolah dalam kasus Priok, para pengagum itu bahkan rela mati demi kekeramatan kuburan. Terlanjur, mereka terlanjur menganggapnya keramat.

Bila dicermati, banyak keprihatinan yang menggelikan yang ditunjukkan sekelompok orang Islam di negara kita. Ulama yang masih hidup dan berkhidmat dalam satu lembaga yang memberikan nasehat dari berbagai kerusakan malah disebut (maaf) ”tolol”, ”goblok” hanya karena tidak sejalan dengan fahamnya yang liberal.

Dinasehati bahwa rokok berbahaya bagi kesehatan, lebih banyak mudharatnya, termasuk kategori tabdzir malah diplintir sebagai fatwa mubadzir dan fatwa pesanan pihak asing. Maka, fatwa ulama menjadi bahan tertawaan, ejekan dan dianggap angin lalu oleh sebab ulama memberi nasehat atas perilaku seronok dan porno seperti dalam kasus tayangan televisi atau film.

Tapi kasus makam keramat Mbah Priok, adalah kebalikannya. Tanpa arwah beliau berfatwa apa-apa pun, orang rela berkelahi untuk menjaga muru’ahnya. Terlanjur, mereka terlanjur menganggapnya keramat. Mengapa? Karena mereka menggangapnya kuburan keramat seperti iman atau aqidah.

Pernah satu kali saya diajak tanpa sengaja ikut berkunjung ke makam Mbah Priok. Hanya saja, saya tidak berkenan masuk sebagaimana lazimnya para peziarah. Bukan karena ”anti” ziarah. Bukan.

Tapi karena ada peraturan nomor lima yang harus dipatuhi oleh para peziarah yang terpampang di muka gerbang makam ulama kelahiran Palembang itu. Peraturan nomor lima itu, saya duga akan menodai keyakinan saya apabila saya patuhi. Peraturan nomor lima itu ”mengahantui” iman saya, sebab berbunyi :

”Dilarang mendo’akan sohibul maqam kecuali meminta do’a kepada shohibul maqam. Di sini maqam wali Allah, jangan meminta do’a sembarangan ...”

Kepada pengurus makam saya meminta penjelasan sekedar klarifikasi. Apa kira-kira maksudnya, jangan-jangan hanya persepsi saya yang keliru. Dengan cukup fasih, pengurus makam yang masih belia itu menjelaskan:

”Yaa ..., kita jangan mendo’akan Mbah Priok. Kita yang harus minta do’a kepadanya”.

”Mengapa begitu?”, saya seolah penasaran.

”Beliau kan wali. Sudah jaminan surga. Tidak pantas dido’akan. Kita lah yang pantas meminta do’a kepadanya sebab kita belum jaminan masuk surga”.

”O, begitu ya. Terima kasih”.

Saya tidak berkenan masuk tetapi tetap melanggar peraturan nomor lima. Saya tetap berdo’a kepada Allah di luar gerbang makam memohonkan kebaikan untuk Mbah Priok semoga ajasa-jasanya menyebarkan Islam di Jakarta bagian utara menjadi catatan amal soleh yang mengantarkannya kelak ke Firdaus.

Saya tidak berkenan meminta apapun kepada arwahnya. Alhamdulillah, saya tidak merasa kualat sampai hari ini. Saya masih sehat dan masih bisa menulis meskipun butir terakhir dari peraturan itu ada berbunyi:

”Demikian. Berhati-hatilah mengenai nazar dan janji-janji kepada pengurus maqam dan patuhilah peraturan-peraturan yang tertera di papan ini (melanggar kualat)”.

Soal kuburan memang soal orang mati. Tetapi justeru banyak orang hidup tergelincir dan terpelanting terpuruk ke dalam kubangan syirik dalam aqidah. Bahkan tragedi di makam Mbah Priok kemarin, sudah menjurus kepada syirik sosial pula berupa anarkhisme dan kesewenang-wenangan. Wajarlah jika Rasulullah sendiri wanti-wanti soal kuburan dan ziarah.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melaknat pelakunya (yakni orang-orang yang suka mengagungkan kuburan). Terkadang beliau menyatakan, “Demikian besar murka Allah kepada kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan mereka agar mendapatkan murka dari Allah Subhanahu wa Ta'ala karena apa yang mereka perbuat termasuk perbuatan maksiat. Yang demikian ini terdapat di dalam kitab-kitab Shahih.

Terkadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang (dengan keras) perbuatan tersebut, terkadang mengutus seseorang untuk menghancurkannya, terkadang menyebutkan bahwa hal itu termasuk dari perbuatan Yahudi dan Nasrani, terkadang beliau menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala.” Terkadang menyatakan, “Jangan kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat ied.”

Wajarlah pula dalam riwayat Imam Nasa’i, lain waktu Rasulullah pernah menegaskan soal ini, "... (Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) barangsiapa yang ingin berziarah maka berziarahlah dan jangan mengatakan perkataan yang keji."

Ziarah kubur sebagaimana tuntunan Nabi, bermanfaat untuk mengingat mati. Sebab sesungguhnya, rumah masa depan bagi kita hanya seluas 1 x 1 meter persegi. Itulah kubur dengan kematian sebagai pintunya.

Itulah peristirahatan sementara bukan yang terakhir sebelum sampai pada akhirat menuju pintu surga atau neraka. Karenanya jangan sampai soal kubur malah membuat peziarah semakin tidak mungkin masuk surga sebab jatuh ke jurang syirik yang teramat dalam sebab taqdis pada kuburan yang menyimpang.

Huru-hara, korban luka, darah berceceran, manusia menyiksa manusia karena soal persepsi kuburan keramat dan alasan pengadilan telah terbukti menyengsarakan banyak orang di dunia.

Dari sisi nalar sehat, saya tidak percaya hal itu telah terjadi. Saya tidak percaya aparat yang menikmati gaji dari uang rakyat, mementung rakyatnya sendiri. Saya juga tidak percaya, kelompok masyarakat muslim menyerang tanpa memikirkan hati nurani dan akhlak yang diajarkan agamanya.

Mengenang Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Allahuyarham, patutlah kita bermunajat, ”Allaahummaghfir lahu warhamhu wa ’aafihi wa’fu ’anhu ...”. Cukup. Selebihnya adukan segala persoalan dan permintaan hanya kepada Allah subhanahu wa ta’aala. Wallaahu a’lam.
 
Ziarah ke Makam Keramat di Kabupaten Pandeglang Banten

Latar Belakang

Ziarah makam tergolong tradisi yang sangat tua, barangkali setua kebudayaan manusia itu sendiri. Tradisi ini umumnya berhubungan erat dengan unsur kepercayaan atau keagamaan. Tradisi, menurut Parsudi Suparlan, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin (Jalaluddin, 1996: 180), merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Meredith McGuire (dalam Jalaluddin, 1996: 180), melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama.

Kabupaten Pandeglang, terletak di wilayah provinsi Banten, merupakan kawasan yang sebagian besar masih merupakan pedesaan. Dalam satu tulisannya, Azyumardi Azra menyebutkan, orang-orang Muslim di Banten percaya bahwa Tuhan sangat baik dan tidak akan mengabaikan mereka; tetapi pada saat yang sama, kekuatan-kekuatan jahat dan .......... terus mendatangkan bencana, sehingga mereka terpaksa mengarahkan aktivitas ritual kepada kekuatan-kekuatan jahat tersebut. Dalam kaitan ini pula terjadi pemujaan terhadap orang-orang yang telah mati, yang dipandang potensial untuk membantu mereka dalam menghadapi berbagai kekuatan jahat (Azra, 1999: 66).

Ungkapan yang digunakan Azra dalam kalimat “pemujaan terhadap orang-orang yang mati” mungkin terlalu berlebihan untuk menggambarkan keyakinan masyarakat Banten. Pada kenyataannya, orang-orang Banten akan menolak kalau dikatakan mereka memuja orang-orang yang telah mati. Lebih tepat kalau dikatakan, mereka menggunakan arwah orang-orang yang telah mati itu sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan doa atau keinginan mereka kepada Tuhan. Arwah itu pun bukan sembarang arwah, melainkan arwah dari orang-orang yang semasa hidupnya dianggap sebagai tokoh, misalnya kiyai, syekh, jawara (orang sakti), atau sultan. Orang-orang Banten percaya bahwa tokoh-tokoh itu mempunyai karomah atau keistimewaan spiritual tertentu. Ketika sudah meninggal, karomah itu dipercaya masih ada dan bisa diperoleh dari makam mereka. Oleh karena itulah, aktivitas ziarah ke makam keramat sering disebut ngalap barokah, yaitu mencari berkah dari keramat yang terdapat pada makam sang tokoh.

Pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal dahulu memang ada ketika agama Islam belum dianut masyarakat Banten. Kepercayaan semacam itu, yang disebut animisme, secara berangsur-angsur telah terkikis dengan datangnya Islam. Diperlukan penelitian tersendiri apakah tradisi ziarah ke makam keramat, yang menunjukkan adanya keyakinan mengenai keistimewaan roh-roh dari tokoh tertentu, itu merupakan kompromi antara kepercayaan lama dengan ajaran Islam atau bukan. Sebab Islam yang datang ke Banten, dan ke Nusantara secara umum, adalah Islam dengan nuansa sufisme sangat kental. Telah banyak dikemukakan oleh para ahli sejarah, bahwa para penyebar Islam di Jawa hampir seluruhnya adalah pemimpin-pemimpin tarekat (Dhofier, 1982: 144). Di Banten sendiri, pernah dan masih berkembang aliran-aliran tarekat antara lain tarekat Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. Dalam sufisme, ada ajaran tentang tawassul dengan para guru dan syekh terdahulu, dan ziarah merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka tawassul. Jadi, tidak bisa dengan serta merta dikatakan bahwa ziarah ke makam keramat merupakan warisan tradisi pra-Islam.

Di kalangan Islam sendiri, sebetulnya aktivitas ziarah ke makam keramat dan doktrin tawassul masih menimbulkan pertentangan teologis yang belum terselesaikan, antara pihak yang membolehkan (bahkan menyunahkan) dan pihak yang membid’ahkan (bahkan mengharamkan). Pihak yang membolehkan ziarah ke makam keramat umumnya berasal dari kalangan Islam tradisional, sedangkan pihak yang melarang berasal dari kalangan Islam modernis. Tapi terlepas dari pertentangan teologis tersebut, ziarah ke makam keramat merupakan sebuah fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, bahkan merupakan suatu tradisi atau bentuk kebudayaan yang menarik untuk diteliti.

Menilik tempatnya, makam yang menjadi tujuan ziarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu makam keluarga dan makam keramat. Pada makam keluarga, misalnya makam orang tua, orang yang berziarah umumnya bertujuan untuk mendoakan arwah yang dikubur agar mendapat keselamatan atau tempat yang baik di sisi Tuhan. Jadi, manfaatnya bukan ditujukan untuk kepentingan orang yang berziarah, melainkan untuk kebaikan roh orang yang diziarahi.

Ziarah ke makam keluarga memiliki makna kultural yang hampir sama dengan halal bihalal, di mana dalam periode tertentu, misalnya setahun sekali, orang merasa perlu menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk mengunjungi saudara-saudara dan tetangganya. Jika halal bihalal adalah silaturahmi kepada orang-orang yang masih hidup, ziarah kubur adalah silaturahmi kepada orang-orang yang sudah mati. Orang yang sewaktu lebaran tidak pulang kampung untuk berhalal bihalal, ia bisa dianggap lupa asal usul. Demikian pula, orang yang dalam periode tertentu tidak melakukan ziarah, khususnya jika ia memiliki orang tua yang sudah meninggal, akan dianggap anak yang tidak berbakti.

Sedangkan pada makam keramat, aktivitas berziarah ke sana tampaknya memiliki tujuan atau motivasi yang beragam. Hal ini mengingat bahwa orang-orang yang berziarah ke makam keramat berasal dari berbagai daerah dan kalangan serta status sosial yang bermacam-macam. Bahkan untuk makam keramat yang besar, penziarah bisa berasal dari daerah yang sangat jauh, luar pulau, sampai luar negara.

Pengertian Ziarah dan Makam Keramat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 1990), ziarah diartikan sebagai “kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya makam, dsb.” Dari pengertian ini, tampak bahwa yang dikunjungi dalam kegiatan ziarah bukan sembarang tempat, melainkan tempat yang dianggap keramat, misalnya makam atau kuburan. Selain makam, tempat-tempat yang kerap dianggap keramat antara lain tempat lahir seorang tokoh besar (misalnya tempat lahir Syekh Nawawi Banten di Tanahara), tempat persinggahan (misalnya situs Batu Quran di Cibulakan, Pandeglang), dan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah spiritual tinggi.

Pengertian keramat itu sendiri, menurut KBBI, adalah: (1) suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa); (2) suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci).

Dengan demikian, secara bebas makam keramat dapat diartikan sebagai makam dari orang yang suci atau dianggap suci oleh masyarakatnya, atau makam dari orang yang bertakwa, atau makam dari orang yang semasa hidupnya memunyai kemampuan tertentu di luar kemampuan manusia biasa, khususnya kemampuan dalam bidang spiritual. Oleh karena itu, makam dari orang-orang awam biasanya tidak disebut makam keramat, meskipun barangkali makam orang awam tersebut tetap memiliki nilai kekeramatan tertentu bagi anaknya atau kerabatnya.

Makna Spiritual Ziarah ke Makam Keramat

Ziarah ke makam, baik yang keramat maupun tidak, berkaitan erat dengan unsur keagamaan. Makam, dalam banyak kebudayaan dan kepercayaan di seluruh dunia, menempati ruang spiritual yang istimewa, bahkan menjadi pusat kehidupan keagamaan di samping kuil-kuil pemujaan. Sebagai tempat dikuburkannya jasad orang yang sudah meninggal, makam dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang meninggal itu. Berziarah ke makam merupakan cara untuk berhubungan kembali secara spiritual dengan roh-roh tersebut.

Ziarah ke makam juga berkaitan dengan kehidupan sosial. Orang yang ingin melakukan sesuatu atau kebutuhan tertentu, seperti membuka lahan pertanian, melangsungkan perkawinan, sampai berperang, merasa belum sah kalau belum meminta restu pada roh-roh nenek moyang. Roh-roh itu dipercaya dapat melindungi mereka, mengabulkan permohonan mereka, bahkan dapat pula menghukum kalau mereka melakukan pelanggaran.

Penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal diwujudkan dalam berbagai cara, misalnya mengadakan upacara kematian dengan ritual dan peralatan yang rumit, pembangunan kuburan secara mewah, di beberapa tempat disertai makanan dan harta untuk bekal perjalanan sang arwah, sampai pendirian kuil-kuil pemujaan.

Menurut Geoffrey Parrinder, yang dikutip oleh Zakiah Daradjat (Daradjat dkk, 1996: 43), pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal atau telah mati terdapat di semua masyarakat. Karena itu kepercayaan terhadap hidup setelah mati ini bersifat universal dan merupakan salah satu bentuk kuno dalam kepercayaan di kalangan suku-suku primitif. Di Cina, pemujaan dan penyembahan terhadap para leluhur adalah pemujaan yang sangat kuno dan merupakan salah satu unsur yang paling diutamakan dalam agama Cina. Di Yunani, terdapat kepercayaan bahwa arwah leluhur tinggal di makam-makam dan memiliki kekuasaan atas baik dan buruk, sakit, dan mati. Begitu pula di Jepang, Mesir, Babylonia, Eropa, termasuk suku-suku di Indonesia (Daradjat dkk, 1996: 41-42).

Praktik pemujaan terhadap arwah para leluhur, yang di antaranya dilakukan dengan persembahan korban atau pemberian sesajen, memang tidak selalu dilakukan di makam. Dalam kebudayaan tertentu, arwah leluhur itu dipercaya bisa ada di mana-mana, di hutan-hutan, kampung, sawah, pohon, sampai di rumah (Daradjat dkk, 1996: 42), dan praktik pemujaannya pun bisa dilakukan di tempat-tempat tersebut. Meskipun demikian, kedudukan makam tetaplah menempati posisi yang paling penting.

Pada masa sekarang pun sisa-sisa kepercayaan tersebut masih bisa dijumpai di beberapa kebudayaan, khususnya di suku-suku yang kebudayaannya masih primitif. Di Melanesia, terdapat cara menghubungi roh leluhur yaitu setelah selesai penguburan mayat, mereka lalu mengambil suatu kantong dan sebatang bambu yang panjangnya kira-kira lima sampai tujuh meter. Ke dalam kantong tadi ditaruhkan pisang, lalu mulut kantong diikatkan pada ujung bambu, dan kantong tersebut diletakkan tepat di atas kuburan si mati. Kemudian orang tersebut berharap dan meminta kedatangan roh sambil memegang ujung sebelah bambu tadi. Nama orang yang baru saja meninggal dipanggil-panggil (Daradjat dkk, 1996: 44-45). Di Dayak Kalimantan, terdapat kebiasaan menghubungi roh orang yang sudah meninggal dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharap-harapkan mendapatkan keberuntungan (Daradjat dkk, 1996: 45).

Kehadiran agama-agama formal, seperti Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, dan Islam, yang masing-masing memiliki tempat pemujaan atau rumah ibadah, tidak melenyapkan fungsi spiritual dari makam. Malah banyak di antara tempat ibadah itu yang didirikan di atas makam, atau makam yang dibangun di dekat tempat ibadah. Sehingga seringkali tidak dapat dibedakan ketika seseorang berada di rumah ibadah, apakah ia hanya melakukan sembahyang di rumah ibadah tersebut ataukah berziarah ke makam, ataukah kedua-duanya.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad Saw. dimakamkan di dekat masjid Nabawi Madinah, dan makam raja-raja Banten berada di dalam Masjid Agung Banten. Selain itu, di makam-makam tempat ziarah terutama yang besar dan ramai hampir selalu didirikan masjid, misalnya di makam Sunan Gunung Jati Cirebon dan makam Syekh Mansur Pandeglang. Ini menandakan bahwa tempat ibadah (masjid) dan makam (khususnya makam dari orang tertentu) memiliki fungsi spiritual yang beririsan.

Dalam Islam, aktivitas ziarah ke makam keramat berkaitan erat dengan konsep kewalian atau kesucian. Para nabi, wali, dan orang-orang suci atau orang-orang yang dikenal memiliki ketakwaan tinggi dipercaya memiliki tempat mulia di sisi Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah di dalam Alquran surat al-Hujurât [49] ayat 13, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Menurut Muhaimin AG (dalam Supriatno, 2007: xv), Ketakwaan seorang nabi atau wali adalah model tentang orang yang telah menempuh hidup mulia sekaligus model untuk diteladani dan dijadikan panutan bagi orang yang ingin menempuh hidup mulia. Sebagai model, mereka layak dihormati. Penghormatan itu bisa mengambil berbagai bentuk, salah satunya dengan mengunjungi kuburannya tempat sang teladan diperistirahatkan untuk terakhir kalinya. Di sana, orang berdoa dan mendoakannya. Apabila doa mereka dikabulkan oleh Allah, maka tambahan pahala dan kemuliaan (karamah) dari doa itu akan mengalir kepada yang didoakan, dan menambah tumpukan pahala dan kemuliaan yang ada padanya yang sesungguhnya sudah penuh karena ketakwaan dirinya. Seakan tidak tertampung, akumulasi kemuliaan itu lalu meluber kepada penziarah yang sekaligus berdoa tadi. Luberan kemuliaan itulah yang disebut orang sebagai “barakah”. Barakah itu, bagi yang merasakannya, menggejala dalam berbagai bentuk seperti kemudahan usaha, perolehan keuntungan, terbebas dari derita, sembuh dari penyakit, hilangnya stres, ketenangan hidup, dan bentuk-bentuk lain.

Tempat-tempat Ziarah Keramat di Kabupaten Pandeglang

Kabupaten Pandeglang terletak di provinsi Banten. Luas wilayahnya adalah 2.193,58 Km2. Wilayah kabupaten Pandeglang berbatasan dengan kabupaten Lebak di sebelah Timur, kabupaten Serang di sebelah Utara, Selat Sunda di sebelah Barat, dan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Pada tahun 2000, jumlah penduduknya mencapai 2.933.900 jiwa.

Mayoritas penduduk Pandeglang menganut agama Islam, dan coraknya dapat digolongkan ke dalam Islam tradisional. Di sini, penghormatan terhadap ulama atau kiyai menempati posisi yang tinggi, termasuk ketika ulama tersebut sudah meninggal dunia. Makamnya akan banyak diziarahi oleh murid-muridnya, masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat dari luar daerah, bergantung pada “kaliber” atau lingkup ketokohan ulama tersebut.

Tradisi keagamaan masyarakat Pandeglang tidak berbeda dengan tradisi keagamaan di provinsi Banten pada umumnya, termasuk dalam hal ziarah ke makam keramat. Di antara makam keramat di daerah Pandeglang yang banyak diziarahi oleh masyarakat, termasuk masyarakat dari luar daerah, antara lain:

1. Makam Syekh Mansur di Cikadueun

2. Makam Syekh Abdul Jabbar di Karangtanjung


3. Makam Syekh Asnawi di Caringin, Banten


4. Makam Syekh Daud di Labuan

5. Makam Syekh Rako di Gunung Karang

6. Makam Syekh Royani di Kadupinang

7. Makam Syekh Armin di Cibuntu

8. Makam Abuya Dimyati di Cidahu

9. Makam Ki Bustomi di Cisantri

10. Makam Nyimas Gandasari di Panimbang.

Aktivitas ziarah ke makam-makam keramat tersebut biasanya meningkat tajam pada bulan Mulud (Rabiul Awal, bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw.), menjelang bulan Ramadan, sehabis Lebaran, pada malam Jumat, dan pada hari-hari libur. Tetapi pada hari-hari biasa pun selalu ada saja orang yang berziarah. []




SELALU...

TIPS AGAR BISA MERASAKAN MANIS DAN LEZATNYA QIYAMUL LAIL (SHALAT TAHAJUD),


 
TIPS AGAR BISA MERASAKAN MANIS DAN LEZATNYA QIYAMUL LAIL (SHALAT TAHAJUD),
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim .. Qiyamul-lail adalah sarana berkomunikasi seorang hamba dengan Rabbnya. Sang hamba merasa lezat di kala munajat dengan Penciptanya. Ia berdoa, beristighfar, bertasbih, dan memuji Sang Pencipta.

Dan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesuai dengan janjinya, akan mencintai hamba yang mendekat kepada-Nya. Kalau Allah mencintai seorang hamba, maka Ia akan mempermudah semua aspek kehidupan hambaNya. Dan memberi berkah atas semua aktivitas sang hamba.

Seorang muslim yang kontinu mengerjakan qiyamullail, pasti dicintai dan dekat dengan Allah swt. Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan kepada kita, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Berbagai keutamaan qiyamul-lail sudah kita baca atau kita dengar dari para ulama. Kita pun sudah beberapa kali mencoba melaksanakannya, dengan kesungguhan melawan kantuk dan dinginnya malam. Namun, berkali-kali juga kita mengalami futur (lalai), tidak dapat lagi melaksanakan qiyamul-lail.

Sebabnya adalah karena kita belum dapat menikmatinya. Sehingga pikiran bawah sadar kita masih merasakan bahwa qiyamul-lail itu beban yang berat.

Waktu sepertiga malam, saat dimana bumi mengeluarkan gelombang kekhusyu’an (alfa), sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (Al-Muzammil 6).

Seharusnya, saat-saat inilah dzikir dan bacaan Al-Quran kita lebih berkesan, hati lebih mudah bergetar ketika Asma Allah disebut. Jiwa kita lebih bening sebening embun pagi di dedaunan.

Air mata lebih mudah meleleh bahkan tertumpah dan tak kuasa kita hentikan. Hati menjadi halus dan lembut, sehingga hijab kita dengan Allah semakin transparan. Pendeknya inilah surga dunia yang telah dinikmati oleh para sahabat, tabi’in dan salafus saleh. Maukah kita memperolehnya?

Mengapa kita belum bisa menikmati Qiyamul Lail? Kita tidak dapat menikmati qiyamul-lail, dan masih banyak melakukan maksiat adalah karena “kita belum mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT”. Hati kita masih diisi oleh selain Allah, masih jauh dari Allah.

Mari pertama-tama kita niatkan dan azzamkan diri kita bahwa kita sangat ingin untuk taqarrub mendekatkan diri kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah RA disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah bersabda, ..

‘Aku menuruti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Kalau ia mengingat-Ku dalam hati, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di tengah kerumunan orang, Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka.

Kalau ia mendekat diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekatkan Diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri pada-Ku sehasta. Aku pun akan mendekatkan Diri padanya sedepa. Jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil”.

Waktu-waktu di keseharian kita, masih sunyi dari dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berdzikir kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan” (HR Abu Dawud).

Dalam keseharian kita, di perjalanan kantor, istirahat, hati dan pikiran kita tidak dzikir kepada Allah dan lantas diisi oleh selainnya. Bahkan! bangun tidur kita lupa berdoa, masuk dan keluar kamar mandi lupa berdzikir, selesai makan lupa memuji dan berterima kasih kepada-Nya. Astaghfirullah … beristighfarlah berulang kali sobatku. Rasakanlah penyesalan dan biarkan air matamu meleleh …

Mulai detik ini isilah setiap relung hati dan celah pikiran dengan dzikir kepada Allah. Di setiap waktu dalam 24 jam hidup kita isilah dengan dzikir. Jika kita melakukannya, bahkan dalam tidur pun kita tetap bermimpi berdzikir dan bershalawat.

Banyak dzikir-dzikir singkat, seperti dua kalimat yang paling berat di sisi Allah, yaitu, “SubhanaLlahi wabihamdihi … SubhanaLlahil-azhiem …”. Atau dengan beristighfar, “Astaghfirullah … astaghfirullah …”, bertasbih, “Subhanallah … subhanallah”. Bahkan cukup dengan menyebut asma Allah, “Allah … Allah … atau Yaa Allah .. Ya Allah”.

Lakukanlah di manapun, dan kapan pun, bahkan multitasking sambil melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari. Jika ada waktu senggang, dzikir yang paling utama adalah Al-Quran. Membaca Al-Quran, mentadabburinya, menghafalnya, mengulang hafalan atau bahkan sekadar mendengarkan kaset murattal Al-Qur’an sambil kita mengendarai kendaraan.

Dzikir ini akan mengikis dosa dan kotoran jiwa, seperti mengikis karat hingga kemilau emas muncul kembali. Dengan sendirinya, dzikir akan mencegah kita berbuat dosa dan maksiat. Ketika kita akan berbuat sesuatu yang dilarang Allah, hati yang telah dipenuhi Asma Allah akan otomatis menolaknya dengan keras.

Dzikir akan semakin menghaluskan hati kita. Semakin memudahkan kita menangis dalam berbagai kondisi. Semakin memahami hakikat dan semakin dekat kepada Allah.

Jika dalam setiap tarikan nafas kita selalu berdzikir, dalam setiap langkah kita diikuti dengan dzikir, maka akan muncul banyak keajaiban dalam hidup kita. Allah akan mengaruniai limpahan kenikmatan yang menisbikan kenikmatan dunia.

Sahabatku, mari hidupkan hati, lembutkan jiwa dengan selalu berdzikir kepada Allah. Barulah kita bisa menikmati indahnya dan nikmatnya Qiyamul Lail, dan shalat-shalat lainnya. Berikutnya kita akan merasakan berbagai kenikmatan spiritual dan ayat-ayat keajaiban Allah dalam hidup kita.

Mari penuhi hidup kita dengan dzikir, dan perhatikan apa yang akan terjadi ..
TATA - TATA CARA BERSUCI DARI HAID DAN JUNUB

Cara mandi bagi wanita yang sudah selesai haidnya atau telah berjunub adalah sama dengan cara laki-laki mandi junub, hanya bagi wanita tidak wajib atasnya melepas ikatan atau kepangan (jalinan) rambutnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu anhaa berikut ini : "Seorang wanita berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam : "Sesungguhnya aku adalah orang yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku (harus) membuka ikatan rambutkau untuk mandi janabat. " Rasulullah menjawawb: "Sungguh cukup bagimu menuang mengguyur) atas kepalamu tiga tuangan dengan air kemudian engkau siram seluruh badanmu, maka sungguh dengan berbuat demikian) engkau telah bersuci." {HR. Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi dan dia berkata hadits ini adalah hasan shahih)Dalam riwayat lain hadits ini dari jalan Abdurrazaq dengan lafadz: "Apakah aku harus (harus) melepaskannya (ikatan rambutku) untuk mandi janabat?" disunahkan bagi wanita apbila mandi dari haid atau nifas memakai kapas yang ditaruh padanya minyak wangi lalu digunakan untuk membersihkan bekas darah agar tidak meninggalkan bau. Hal ini diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisah Radhiallahu anha : "Bahwasanya Asma binti Yazid bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang mandi haid. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda : "(hendklah) salah seorang di antara kalian memakai air yang dicampur dengan daun bidara (wewangian), kemudian dia bersuci dengannya lalu berwudhu dan memperbaiki wudhunya. Kemudian dia siramkan air di atas kepalanya. Lalu dia siramkan atasnya air (ke seluruh tubuh) setelah itu (hendaklah) dia mengambil kapas (atau kain yang telah diberi minyak wangi) kemudian ia bersuci dengannya."{HR. Al-Jamaah kecuali Tirmidzi}

Tidaklah mandi haid atau junub dinamakan mandi syari, kecuali dengan dua hal :
  1.  Niat, karena dengan niat terbedakan dari kebiasan dengan ibadah, dalilnya hadits Umar bin Khaththab radhiallahu anhu: "bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya amalan itu tergantung dari niatnya."{HR. Al-Jamaah}, Maknanya adalah bahwasanya sahnya amalan itu dengan niat, amal tanpa niat tidak dianggap syari. Yang perlu diingat bahwa niat adalah amalan hati bukan amalan lisan, jadi tidak perlu diucapkan.. Membersihkan seluruh anggota badan (mandi) dalam mengamalkan firman Allah subhanahu wa Taala: "Dan apabila kalian junub maka mandilah.{Al-Maidah :6}
  2. Dan juga firman Allah subhanahu wa Taala : "Mereka bertanya kepadamu tentang haid , katakanlah haid itu kotoran yang menyakitkan) maka dari itu jauhkanlah diri kalian dari wanita (istri)yang sedang haiddan janganlah engkau mendekati mereka, sampai mereka bersuci (mandi)."{Al-Baqarah : 222}
Adapun tata cara mandi yang disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah :
  1. mencuci kedua tangan sekali, dua kali atau tiga kali. 
  2. lalu mencuci kemaluan dengan tangan kiri, setelah itu tangan bekas menggsok kemaluan tersebut digosokan ke bumi.
  3. kemudian berwudhu seperti wudhunyaorang yang mau shalat. Boleh mengakhirkan kedua kaki (dalam berwudhu tidak mencuci kaki)sampai mandi selesaibaru kemudian mencuci kedua kaki.
  4. membasahi kepala sampai pangkal rambutdengan menyela-nyelanya dengan jari-jemari.
  5. setelah itu menuangkan air di atas kepala sebanyak tiga kali.
  6. kemudian menyiram seluruh tubuh, dimulai dengan bagian kanan tubuh lalu bagian kiri sambil membersihkan kedua ketiak, telinga bagian dalam, pusar dan jari jemari kaki serta menggosok bagian tubuh yang mungkin digosok.
  7. selesai mandi, mencuci kedua kaki bagi yang mengakhirkannya (tidak mencucinya tatkala berwudhu)
  8. membersihkan/mengeringkan airyang ada di badan dengan tangan (dan boleh dengan handuk atau lainnya)

Tata cara mandi seperti di atas sesuai dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : "dari Aisah radhiallahu anha, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila dari junub beliau mulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu beliau mengambil air dengan tangan kanan kemudian dituangkan di atas tangan kiri (yang) beliau gunakan untuk mencuci kemaluannya. Kemudian beliau berwudhu seperti wudhunya orang yang mau shalat. Selesai itu beliau mengambil air(dan menuangkannya di kepalanya)sambil memasukan jari-jemarinyake pangkal rambutnyahingga beliau mengetahui bahwasanya beliau telah membersihkan kepalanya dengan tiga siraman (air), kemudian menyiram seluruh badannya."{HR. Bukhari dan Muslim}

Dan juga hadits : "Dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam apabila mandi janabat beliau meminta air, kemudian beliau ambil dengan telapak tangannya dan dan mulai (mencuci) bagian kanan kepalanya lalu bagian kirinya. Setelah itu beliau mengambil air dengan kedua telapak tangannya lalu beliau balikkan (tumpahkan) di atas kepalanya."{HR. Bukhari dan Muslim}

Dalam hadits lain : "Dari Maimunah radhiallahu anha berkata : "Aku meletakan air untuk mandi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Kemudian beliau menuangkan atas kedua tangannya dan mencucinya dua atau tiga kali, lalu beliau menuangkan dengan tangan kanannya atas tangan kirinya dan mencuci kemaluannya (dengan tangan kiri), setelah itu beliau gosokkan tangan (kirinya) ke tanah.Kemudian beliau berkumur-kumur, memasukanair ke hidung dan menyemburkannya, lalu mencuci kedua wajah dan kedua tangannya, kemudian mencuci kepalnya tiga kali dan menyiram seluruh badannya. Selesai itu beliau menjauh dari tempat mandinya lalu mencuci kedua kakinya. Berkata Maimunah : Maka aku berikan kepadanya secarik kain akan tetapi beliau tidak menginginkannya dan tetaplah beliau mengeringkan air (yang ada pada badannya) dengan tangannya."{HR. Al-Jamaah}

Cara mandi di atas adalah cara mandi wajib yang sempurna yang seharusnya dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka untuk mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Perlu diketahui bahwa untuk mandi besar ada dua sifat:
  1. Mandi sempurna dengan menggunakan cara-cara di atas. 
  2. Mandi biasa yaitu mandi yang hanya melakukan hal yang wajib saja tanpa melakukan sunnahnya, dallinya keumuman ayat dalam surat yang artinya : "Janganlah kalian dekati mereka (wanita Haid) sampai mereka bersuci (mandi) dan apbila mereka telah mandi...."{Al-Baqarah 222}. Dan juga dalam firman Allah subhanahu wa Taala : Dan apabila kalian junub maka bersucilah (mandilah)."{Al-Maidah : 6}

Dalam dua ayat di atas Allah subhanau wa Taala tidak menyebutkan kecuali mandi saja, dan barang siapa telah membasahi seluruh badannya dengan air dengan mandi besar walaupun hanya sekali berarti dia telah suci. Yang demikian juga telah ada keterangan dari hadits shahih dari Aisyah dan Maimunah radhiallahu anhuma, juga hadits Ummu Salamah radhiallahu anha : "Cukuplah bagimu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali tuangan , kemudian engkau siram (seluruh badanmu) dengan air, (dengan berbuat dmikian) maka sungguh engkau telah bersuci."{HR. Muslim}
 
Sebaik-baik teladan adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Semoga kita dapat mengamalkan sunnah dengan sebaik mungkin sampai akhir hayat kita. Aamiin
10 GODAAN SYETAN DALAM SHALAT

1. WAS-WAS SAAT MELAKUKAN TAKBIRATUL IHRAM

Saat mulai membaca takbiratul ihram “Allahu Akbar”, ia ragu apakah takbir yang dilakukannya itu sudah sah atau belum sah. Sehingga ia langsung mengulanginya lagi dengan membaca takbir. Peristiwa itu terus menerus terulang, terkadang sampai imamnya hampir ruku’.

Ibnul Qayyim rahimahullaah berkata: “Termasuk tipu daya syetan yang banyak mengganggu mereka adalah was-was dalam bersuci (berwudhu) dan niat atau saat takbiratul ihram dalam sholat”. Was-was itu membuat mereka tersiksa dan tidak tenteram.

2. TIDAK KONSENTRASI SAAT MEMBACA BACAAN SHOLAT

Sahabat Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam yaitu ‘Utsman bin Abil ‘Ash datang kepada Rasulullah dan mengadu: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syetan telah hadir dalam sholatku dan membuat bacaanku salah dan rancau”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itulah syaitan yang disebut dengan Khinzib. Apabila kamu merasakan kehadirannya, maka meludahlah ke kiri tiga kali dan berlindunglah kepada Allah Subhaanahu wa ta’aala Akupun melakukan hal itu dan Allah Subhaanahu wa ta’aala menghilangkan gangguan itu dariku” (HR. Muslim)

3. LUPA JUMLAH ROKA’AT YANG TELAH DIKERJAKAN

Abu Hurairah radhiyallaah ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam telah bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sholat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat yang ia telah kerjakan. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. HADIRNYA PIKIRAN YANG MEMALINGKAN KONSENTRASI

Abu Hurairah radhiyallaah ‘anhu berkata: “Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Apabila dikumandangkan azan sholat, syetan akan berlari seraya terkentut-kentut sampai ia tidak mendengar suara azan tersebut. Apabila muadzin telah selesai azan, ia kembali lagi. Dan jika iqamat dikumandangkan, ia berlari. Apabila telah selesai iqamat, dia kembali lagi. Ia akan selalu bersama orang yang sholat seraya berkata kepadanya: “Ingatlah apa yang tadinya tidak kamu ingat!”, sehingga orang tersebut tidak tahu berapa rakaat ia sholat” (HR Bukhari)

5. TERGESA-GESA UNTUK MENYELESAIKAN SOLAT

Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya ketergesa-gesaan itu datangnya dari syetan, karena tergesa-gesa adalah sifat gegabah dan sembrono yang menghalang-halangi seseorang untuk berprilaku hati-hati, tenang dan santun serta meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tergesa-gesa muncul kerana dua perilaku buruk,yaitu sembrono dan buru-buru sebelum waktunya”.

Tentu saja bila sholat dalam keadaan tergesa-gesa, maka cara pelaksanaannya asal mengerjakan solat, asal selesai, sudah!!!. Tidak ada ketenangan atau thuma’ninah.

Pada zaman Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam ada orang sholat dengan tergesa-gesa. Akhirnya Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam memerintahkannya untuk mengulanginya lagi karena sholat yang telah ia kerjakan belum sah.

Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda kepadanya: “Apabila kamu sholat, bertakbirlah (takbiratul ihram). Lalu bacalah dari Al-Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar ruku’ (thuma’ninah), lalu bangkitlah dari ruku’ sampai kamu tegak berdiri, kemudian sujudlah sampai kamu benar-benar sujud (thuma’ninah) dan lakukanlah hal itu dalam setiap rakaat solatmu” (HR Bukhari dan Muslim)

6. MELAKUKAN GERAKAN-GERAKAN YANG TIDAK PERLU

Dahulu ada seorang sahabat yang bermain kerikil ketika sedang tasyahud. Ia membolak-balikkannya. Melihat hal itu, maka Ibnu Umar segera menegurnya selepas solat. “Jangan bermain kerikil ketika sholat karena perbuatan tersebut berasal dari syetan. Tapi kerjakan seperti apa yang dikerjakan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam”. Orang tersebut bertanya: “Apa yang dilakukannya?” Kemudian Ibnu Umar meletakkan tangan kanannya diatas paha kanannya dengan jari telunjuk menunjuk ke arah kiblat atau tempat sujud. “Demikianlah saya melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam”, kata Ibnu Umar. (HR Tirmidzi)

7. MENENGOK KE KANAN ATAU KE KIRI KETIKA SHOLAT

Dengan sadar atau tidak, seseorang yang sedang sholat memandang ke kiri atau ke kanan, itulah akibat godaan syetan penggoda. Karena itu, setelah takbiratul ihram, pusatkan pandangan pada satu titik. Yaitu tempat sujud. Sehingga perhatian kita menjadi fokus dan tidak mudah dicuri oleh syetan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallaah ‘anhaa, ia berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam tentang hukum menengok ketika sholat”. Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam menjawab, “Itu adalah curian syetan atas sholat seorang hamba”. (HR Bukhari)

8. MENGUAP DAN MENGANTUK

Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Menguap ketika sholat itu dari syetan. Karena itu bila kalian ingin menguap, maka tahanlah sebisa mungkin” (HR Thabrani).

Dalam riwayat lain Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda, “Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah seseorang mencegahnya (menahannya) selagi bisa. Apabila ia berkata ha… berarti syaitan tertawa dalam mulutnya” (HR Bukhari dan Muslim)

9. BERSIN BERULANG KALI SAAT SHOLAT

Syetan ingin mengganggu kekhusyukkan sholat dengan bersin, sebagaimana yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud: “Menguap dan bersin dalam sholat itu dari syetan” (Riwayat Thabrani).

Ibnu Hajar menguraikan pernyataan Ibnu Mas’ud radhiyallaah ‘anhu, “Bersin yang tidak disenangi Allah Subhaanahu wa ta’aala adalah yang terjadi dalam sholat, sedangkan bersin di luar solat itu tetap disenangi Allah Subhaanahu wa ta’aala. Hal itu tidak lain karena syetan memang ingin mengganggu sholat seseorang dengan berbagai cara”.

10. TERASA INGIN BUANG ANGIN ATAU BUANG AIR

Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bimbang atas apa yang dirasakan di perutnya apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak, maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid sampai ia yakin telah mendengar suara (keluarnya angin) atau mencium baunya” (HR Muslim).

Berbahagialah orang-orang muslim yang selama ini terbebas dari berbagai macam gangguan syetan dalam solat. Semoga kita semua dibebaskan oleh Allah Subhaanahu wa ta’aala dari gangguan-gangguan tersebut. Dan bagi yang merasakan gangguan tersebut, sebagian atau keseluruhannya, janganlah putus asa untuk berjihad melawan godaan syetan yang terkutuk.

SUBHANALLAH...



TANDA MENINGGAL HUSNUL KHOTIMAH

Meninggal dunia dalam keadaan Khusnul Khatimah atau akhir yang baik merupakan dambaan setiap insan. Setidaknya ada 4 buah hadits dan 1 ayat Al Qur'an yang dijadikan rujukan untuk menentukan tanda mati yang baik ini. Menurut Al Imam Al Abani ra dalam kitabnya, Ahkamul Jana'iz Wa Bida'uha, setidaknya tanda- tanda meninggal khusnul khatimah antara lain sebagai beriku
1.  Mengucapkan syahadat ketika hendak meninggal.
    Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat Laa ilaaha Illallah ia akan   
    masuk surga. (HR. Al Hakim).
2.Dahi berkeringat.
   Rasulullah SAW bersabda, "Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi." (HR. Ahmad).
3. Meninggal pada malam atau siang hari Jum'at.
   Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari jum'at, kecuali Allah 
   akan menjaganya dari fitnah kubur." (HR. Ahmad, At Tirmidzi).
4. Meninggal syahid di medan perang.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran : 169. janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[1] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. 170. mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka[2], bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 171. mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.

Penjelasan ayat:
[1] Yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana Keadaan hidup itu.
[2] Maksudnya ialah teman-temannya yang masih hidup dan tetap berjihad di jalan Allah s.w.t.

5. Meninggal dalam keadaan beramal saleh.

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah karena mengaharapkan wajah Allah, yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.

Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah SWT, yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.

Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah SWT, yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga." (HR. Ahmad).

Subhanallah... Ya Allah semoga kelak saat kita di ambil nyawanya dalam keadaan khusnul khatimah, Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------
5 Waktu tidur yang dilarang oleh Rasulullah SAW

1- Tidur selepas makan.
2- Tidur sepanjang hari.
3- Tidur selepas solat Subuh dan awal pagi.
4- Tidur pada waktu asar.
5- Tidur sebelum solat Isyak.

Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1
(satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka
walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia
akan tetap memperoleh pahala."(HR. Al-Bukhari)

SUBHANALLAH

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita agar selalu mengikuti sunnah Rasulullah Saw dan menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba ALLAH yang senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya. Aamiin
BELAJAR TAWAKKAL (DALAM MENGAIS REZEKI) DARI SEEKOR BURUNG

"Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi REZKI sebagaimana REZKI burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR At-Tirmidzi)

TERNYATA ada beberapa SIFAT dan SIKAP yang dilakukan oleh burung dalam mencari makanannya, yaitu:

1. BURUNG SELALU BANGUN PAGI

Tidak ada burung yang bangunnya kesiangan, kecuali burung sakit, atau burung malam (burung hantu). Namun jika dilihat secara umum, burung selalu bangun pagi. Ia bangun dengan penuh OPTIMISME, RIANG dan GEMBIRA tanpa ada rasa KHAWATIR sedikitpun akan makan apa hari ini, tidak pernah KHAWATIR akan REZKI yang pasti sudah disiapkan oleh الله. Bahkan di celah persiapannya, dia sambil sibuk bernyanyi dan membangunkan manusia, seolah dia menunjukkan kepada kita akan REZKI الله yang selalu siap kita jemput. Seolah ia menunjukkan kepada kita bagaimana ia BERTASBIH kepada الله, melalui kicauannya.

Contohlah burung saat ia bangun pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk BERSYUKUR, MEMUJI الله yang Maha Pemurah, dan BERTASBIH kepada الله melalui nyanyiannya. Kita diberi infrastruktur jauh lebih istimewa daripada burung, mari kita gunakan waktu kita untuk bangun pagi, BERSYUKUR, BERTASBIH dan BERMUNAJAT kepada الله, seperti yang dilakukan oleh burung.

2. BURUNG BERUSAHA BERDIRI, PERSIAPAN SEBELUM TERBANG

Dalam usaha mencari REZKI, kita juga harus melakukan “pemanasan”, persiapan FISIK maupun MENTAL, maupun FIKIRAN guna kesempurnaan IKHTIAR kita.

3. BURUNG TERBANG DAN MENGEPAKKAN SAYAP MELAWAN GRAVITASI BUMI

Dalam usaha mencari REZKI, jarang sekali tanpa hambatan ataupun kesulitan yang kita hadapi, seperti burung saat terbang dia BERUSAHA SEKUAT TENAGA untuk melawan grafitasi bumi, agar tidak terjatuh.

Seperti kita, di setiap usaha ada saja penolakan, kelelahan, kesulitan, kebuntuan berfikir yang kadang kita temui, namun yakinlah, bahwa semua itu akan membuat kita menjadi lebih taft (tough), lebih tangguh, lebih ahli di kemudian hari, seperti otot-otot sayap burung, karena setiap hari melawan kuatnya gravitasi bumi, dia akan menjadi lebih KUAT dan KUAT LAGI, hingga jika dalam cuaca ekstrim sekalipun, dia telah terbiasa. Jika kita telah terbiasa dengan “ hujan badai “ sulitnya mencari REZKI, maka disaat ada cuaca normal, semua kondisi wajar, kita akan dengan mudah menaklukkan tantangan kehidupan tersebut.

4. SAAT TERBANG SELALU YAKIN DAN TAK PERNAH RAGU

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (Ath Tholaq: 3)

Saat kita telah berdo’a, dan BERTAWAKKAL kepada الله, maka jangan pernah ragukan hasilnya, karena yakinlah, الله telah mempersiapkan REZKI untuk kita. Burung tak pernah RAGU saat terbang, dia selalu yakin bahwa, disana ada HARAPAN, yang telah dipersiapkan oleh الله.

5. TERBANG DGN INSTING, KE TEMPAT YANG RIMBUN DAN SUBUR

Dalam usaha mencari REZKI, diperlukan “ILMU” yang relevan, guna menunjang kesempurnaan IKHTIAR. Jikalau burung hanya dibekali insting oleh الله, untuk mencari tempat-tempat yang rimbun dan subur makanan, maka kita diberi panca indra dan akal pikiran yang luar biasa oleh الله, yang bisa kita gunakan untuk menganalisa dimana tempat-tempat yang subur dan rimbun akan REZKI الله.

6. SETELAH MAKAN, DIA BAWA PULANG SEBAGIAN REZKINYA

Saat mencari REZKI, jangan pernah lupakan beban AMANAH KELUARGA, anak istri yang selalu menanti hasil ikhtiar yang kita lakukan.

7. JIKA MENGAMBIL MAKANAN, BURUNG TIDAK PERNAH MERUSAK

Saat mengambil makanan, burung selalu dengan cara yang INDAH dan SANTUN, tidak pernah ia melakukan perusakan dalam proses pencarian makanan, bahkan ada beberapa jenis burung yang membantu proses pembuahan beberapa tanaman.

Malu rasanya, jika kita dalam proses mencari REZKI kita, harus merugikan orang, harus merusak hak-hak orang, harus menyakiti dan mengecewakan orang lain.

“Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari REZKI dgn tangannya, maka akan diampuni dosa dosanya.” (HR Tabroni)

Subhanallah ...

Semoga ALLAH senantiasa melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk, dan semoga ALLAH selalu memberikan kita kesabaran dalam setiap ujiannnya dan memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Aamiin
 
SETENGAH JAM DIKUBUR, JENAZAH BERUBAH MENJADI GOSONG (HANGUS)

Pagi itu suasana cerah, sebuah truk yang sarat dengan barang pindahan masuk pekarangan sebuah rumah yang baru selesai di bangun. Melihat ada warga pindahan yang akan menjadi penduduk baru.

Masyarakat bergegas membantunya, mereka sibuk mengangkut barang barang masuk ke dalam rumah. Setelah selesai. Pemilik rumah langsung berkenaln dan akrab dengan masyarakat.

"Nama saya Karta,saya pindahan dari kampung sawah, ini istri saya,Nita" ujar Karta.au seorang ibu keluar dari rumah tersebut dengan menggengam sapu di tangan.

"Kalau ibu yang tua itu siapa?" Tanya salah satu tetangga yang baru saja di salami Karta.

"Ohh.....itu ibu saya, nama beliau Fatimah, suaminya sudah meninggal dunia, saya anak pertama,sehingga saya bertanggung jawab atas keluarga, terutama ibu, jadi saya ajak ibu untuk tinggal bersama kami".cerita karta.

Keluarga Karta tampak harmonis, masyarakatpun akrab dengan keluarga karta. Banyak tetangga yang memuji keluarga itu, karena jarang terdengar percekcokan.

Akan tetapi,siapa sangka, apa yang tampak di mata warga sekitar situ teryata berbeda dengan kenyataan. Memang pada awalnya di keluarga itu tidak ada terjadi perseteruan. Namun di kemudian harinya ada saja masalah, hal hal yang remehpun bisa menjadi sumber masalah, terutama antara Ibu Fatimah dan istri Karta selalu saja terjadi perselisihan. Ibu Fatimah sering menerima cacian, hinaan fitnahan dari istri Karta. Akan tetapi ibu Fatimah selalu sabar menerimanya, dia tidak pernah membalas perlakuan sang menantu.

Harapan yang di idam idamkan untuk menghabiskan masa tuanya dengan anak, menantu dan cucu dalam keseharian yang di warnai bunga bunga kebahagiaan teryata pupus sudah. Tetapi demi kasihnya untuk anak tercinta, dia rela menerima berbagai perlakuan yang tidak sewajarnya dari sang menantu.

"Eh tua bangka,jangan enak enakan di sini ya .... memangnya ngak ada yang di kerjain, kerjanya cuma ngobrol saja!" bentak menantunya.

Padahal sang ibu sudah bekerja seharian penuh, namun ada saja yang salah pada dirinya. Cacian, hinaan, fitnahan selalu saja di tuduhkan ke dirinya. Bahkan darah dagingnya sendiri yang ia lahirkan, dirawat sejak kecil ikut membencinya.

"Mas, saya tidak suka dengan ibu, masa seharian kerjanya cuma duduk duduk saja, saya kan capek sudah harus merawat anak kita si Dini, merapikan rumah,eh .... ada yang lain bukannya ikut membantu " kata Nita kepada suaminya.

"Sudahlah kamu tenang saja,nanti saya yang bicara kepada ibu, lama lama hilang juga kesabaran saya kepadanya," ucap Karta.

Hasutan demi hasutan terus di tuduhkan kepada ibunya. Tak tahan mendengar pengaduan istrinya. Karta yang tadinya tidak ambil pusing akhirnya menegur ibunya. Hingga suatu malam terjadi pertengkaran yang hebat.

"Mas,saya sudah tak sanggup tinggal di rumah ini, seperti di neraka saja, saya atau dia yang keluar dari rumah ini. Kalau Mas tidak mengeluarin tua bangka itu dari rumah malam ini juga, saya yang akan keluar! " tantang Nita.

Karena termakan dengan fitnah istrinya, akhirnya Karta tega mengusir ibunya sendiri.

"Bu, saya sudah tidak sanggup dengan sikap ibu, ada saja pertengkaran yang muncul. Daripada rumah tangga saya hancur karena keberadaan ibu di rumah ini, lebih baik ibu keluar dari rumah ini malam ini juga, Ibu bisa tinggal dirumah Tini atau Tuti." usir Karta.

"Saya Tidak mau tahu, bagaimanapun caranya ibu harus meninggalkan rumah malam ini juga," bentak Karta tanpa risih lagi.

"Nak ibu akan keluar dari sini, akan tetapi malam sudah larut, bagaimana mungkin ibu pergi. Ijinkan ibu untuk tinggal malam ini saja, esok pagi ibu akan meninggalkan rumah ini", pinta ibu Fatimah.

Lagi lagi istri Karta menyela,"Mas,saya atau dia yang keluar meninggalkan rumah ini!"

Karena Karta takut kehilangan istrinya yang di cintainya, dia lebih rela ibunya yang harus keluar dari rumahnya. Padahal di rumah itu ibunya pun memiliki saham buat mengadakan rumah tersebut.

"Keluar!, saya tidak mau tahu ! ", bentak Karta dengan bengis. Bahkan dengan sombongnya Karta pun mendorong ibunya keluar rumah.

Nita ,istri Karta sendiri dengan angkuhnya, seakan akan menunjukkan dirinya bahwa dialah pemenangnya.

Hanya berbekal beberapa potong pakaian,tanpa di beri uang satu rupiah pun, ibu Fatimah Meninggalkan rumah itu.

"SAYA TIDAK AKAN RIDHO DUNIA AKHERAT AKAN PERLAKUANNYA KEPADAKU, KUHARAMKAN AIR SUSU YANG TELAH DIMINUMNYA, SEMOGA DIA DI BAKAR DI DUNIA DAN DI AKHERAT", kutuk ibu Fatimah, dengan air mata yang terus mengalir di pipinya yang sudah mulai mengeriput.

Wanita tua itu terus menyelusuri jalan raya seorang diri. Karena tidak membawa uang sepeserpun. Bu Fatimah terpaksa berjalan kaki menuju rumah anaknya yang lain.

Sejak kepergian ibunya, kehidupan rumah tangga karta bukannya bertambah harmonis. Bahkan belakangan Karta jatuh sakit. Sembilan bulan lamanya Karta Melawan sakit. Berawal hanya gatal gatal biasa, kemudian lama kelamaan tampak memerah di sekitar perutnya.

Beberapa dokter dan paranormal telah ia datangi, namun pengobatannya yang ia jalani sia sia saja, tak ada hasilnya, bahkan harta yang ia miliki mulai habis untuk mengobati penyakit itu.

Badan mulai mengurus, jalan pun sudah mulai tak sanggup, akhirnya ia berbaring lemah sepnjang waktu di ranjangnya, dari perutnya keluar cairan yang sangat bau.

Teman teman dan para tetangganya pun mulai menjauh takut tertular dengan penyakit karta. Badanya tak bisa di gerak gerakkan kekanan atau kekiri karena akan menimbulkan rasa sakit yang amat sangat bila bergerak. Belakang tubuhnya mulai lecet lecet di sebabkan lama berbaring kaku di ranjang.

Karta menyadari bahwa sakit yang dideritanya itu di sebabkan oleh sikapnya yang telah mendurhakai ibunya sendiri. Makanya ia pun meminta agar sang ibu datang kerumahnya agar ia bisa minta maaf kepada sang ibu.

"Tolong panggilkan ibu saya,saya ingin bertemu denganya, saya telah berdosa kepadanya," ratap Karta.

Maka diutuslah seorang tetangganya untuk meminta ibunya datang. Namun sang ibu tidak bergeming. Hatinya terlalu sakit menerima perlakuan anaknya yang kurang ajar dan tidak tahu balas budi itu.

"Luka hatiku jauh lebih sakit dari apa yang ia derita," ujar ibu Fatimah menolak orang yang merayunya untuk datang menemui anaknya. Orang itupun dengan langkah gontai pergi meninggalkan rumah Tini.

Sementara itu Karta di ranjangnya, Karta terus merasakan sakit yang amat sangat. Tubuh Karta meronta ronta kesakitan, matanya melotot, seakan ada mahkluk yang sangat menyeramkan di hadapanya.

"Mas, mas ... kenapa mas?... istigfar mas,mas ..... astaughfirullohhal adziim..," ujar Nita sambil memegang tubuh Karta yang kian lama hentakanya semakin keras.

Nita sadar, suaminya sedang menghadapi sakarotul maut, ia pun menuntun suaminya dengan membaca kalimat Tahlil.

"Laa ilaaha illallah,...."berkali kali, dengan deraian airmata Nita terus menuntun suaminya agar mengikuti ucapannya..

Sampai datang waktu subuh, Karta masih saja merasakan sakarotul maut. Nita pergi meninggalkan suaminya untuk menunaikan sholat subuh. Dengan air mata berlinang ia sujud memohon kepada Allah SWT, agar suaminya cepat di ambil nyawanya daripada harus tersiksa seperti itu.

Pada pukul setengah enam, dengan mata yang sembab, Nita kembali masuk ke kamar suaminya. Dipegangnya tubuh Karta, dingin sudah merayapi sekujur tubuhnya. Nafasnya tercekat di Leher, terdengar orokan panjang dari mulutnya.

Tepat jam enam pagi, Karta menghembuskan Nafas Terakhirnya, dengan mata melotot, seolah olah melihat ke atas dan jari tangan yang membengkok kaku serta mulut yang menggangga lebar.

Orang orang sibuk menyiapkan prosesi kematian Karta. Masyarakat sekitar datang berduyun duyun untuk bertakziah ....

Baru melangkahkan kaki di pintu masuk, tercium bau yang tak sedap, padahal ruangan sudah di semprot wewangian, di setiap pojokan di letakkan kamper demi mengurangi bau tak sedap itu. Akan tetapi bau itu tetap saja ada. Pelayat yang datang serta merta menutup hidung agar tak tercium bau tak sedap itu.

Orang orang yang memandikan jenazah pun terpaksa harus menggunakan masker agar tidak tercium bau tak sedap. Anehnya air kotor dan bau yang keluar dari perut Karta tidak mau mengering. padahal perut itu sudah di tempelin berlapis lapis kapas.

Akhirnya orang orang yang mengurus jenazah langsung mengafani.

setelah selesai di sholatkan, jenazahpun di bawa ke tanah pemakaman dengan menggunakan mobil ambulance. Sesampai di pemakaman, liang lahat pun telah di persiapkan. Setelah prosesi pemakaman selesai, tak beberapa lama, rombongan siap kembali ke mobil. Tiba tiba datanglah beberapa laki laki yang tergesa gesa.

"Saya tak mengijinkan mayat ini di kubur di tanah ini, karena kami membayar tanah di sekitar ini. Tanah ini sudah menjadi kavling pemakaman keluarga kami. Saya mohon angkat jenazah itu sekarang juga", ujar orang itu.

"Tolonglah pak, mayat ini sudah di kubur, tidak mungkin kami gali lagi," jawab pak ustadz Abdulah.

"Kami tidak mau tahu!. Tanah ini sudah menjadi milik keluarga kami. kami minta di gali sekarang juga!" ucap orang itu lagi dengan agak marah.

Karena orang yang mengaku memiliki tanah kavling itu ngak mau mengalah, akhirnya pihak keluarga karta terpaksa mengalah juga. Maka makam yang baru sekitar setengah jam di timbun itu pun di gali kembali untuk di pindahkan ketempat yang lain.

Ketika papan penutup liang lahat di bongkar, maka jenazah karta pun tampak dari luar. Semua orang tercengang melihat jenazah itu. Betapa tidak, kain kafan putih yang membalutnya berubah menjadi abu abu, seandainya kalau perubahan warna itu disebabkan oleh tanah makam yang berlumpur tentu warnanya coklat kemerahan ,bukan abu abu.

Hal ini tentu membuat tanda tanya besar di hati para pengantar jenazah. Ketika mayat itu hendak di angkat, orang orang yang mengangkatnya keheranan. Karena ukuran jenazah itu menjadi lebih pendek dari semula. Akibatnya bagian ujung kain kafan itu jadi tampak lebih panjang dari yang seharusnya.

"Pak ustadz,kain kafannya di buka dulu saja, sepertinya kok ada yang tidak beres?" kata beberapa orang.

Maka kain kafan itu pun dibuka.

Begitu kain kafan di terbuka, maka terkejutlah semua orang yang hadir. Betapa tidak, mayat Karta yang baru dikubur sekitar setengah jam, telah berubah menjadi hitam dan gosong seperti hangus terbakar.

Kakinya tertekuk ke dada. Begitu juga tangannya juga tertekuk. Mayat itu bentuknya tidak lagi lurus melainkan berubah seperti monyet. Pantas saja kalau mayatnya seperti lebih pendek.

Melihat kondisi jenazah yang mengerikan seperti itu, maka mereka segera membungkus kembali dengan kain kafan yang tadi, sementara beberapa orang mulai menggali lubang kubur baru yang letaknya di pinggir areal pemakaman dekat pagar batas.

Setelah penguburan selesai, satu persatu orang orang mulai meniggalkan makam itu. Kini Karta seorang diri di lubang kuburnya.Istri yang sangat di cintainya, yang di bela habis habisan pun tidak dapat menemaninya. (Sumber : di sadur Dari Majalah Hidayah)

Semoga ALLAH mewafatkan kita dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin.